Namun di sisi lain, ada anggapan yang salah kaprah, yaitu “kemarahan dapat menyelesaikan segala masalah yang ada dengan cepat dan tepat!” Ketika berhadapan dengan bawahan saya, dengan menunjukkan kekerasan dan kemarahan, barulah mereka menjalankan tugas dengan baik dan tanggung jawab. Kalau tidak dengan marah-marah, mereka semua bekerja seperti siput yang berjalan begitu lambat! Kelihatannya sepintas benar, karena jika dimarahi, pihak lain akan menurut daripada dimarahi lebih keras lagi. Mereka memang bekerja, tetapi mereka melakukan dengan sakit hati, atau malah karena atasan sudah punya kebiasaan suka marah-marah, kemarahannya malah sudah tidak didengar lagi, diacuhkan seperti anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Ada orang yang tidak mau menanggapi amarah karena tidak mau ada konflik yang berkelanjutan: “Sudah tidak usah diteruskan lagi … daripada semuanya emosi”. Memang konflik berhenti, tetapi belum menyelesaikan pokok persoalan yang terjadi.
Antara Sabar dan Kemarahan
September 24, 2018