Renungan

Canda Ada Batasnya

Canda Ada Batasnya

 

Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut, demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: “Aku hanya bersenda gurau.”

(Amsal 26:18-19)

 

Namanya Maizatul Farhanah. Umurnya masih tiga belas tahun, siswi sebuah SMP di Batam. Pada hari ulang tahunnya, teman-teman sekelas bekerja sama dengan wali kelas ingin memberikan kejutan kepadanya. Guru dan murid-murid yang lain bekerja sama menuduh Maizatul Farhanah mencuri barang di kelas. Maksud guru dan teman temannya jelas: sekadar bergurau alias ngerjain  di hari ulang tahunnya. Namun, apa yang terjadi kemudian ternyata berujung nahas. Maizatul Farhanah mengalami stres, depresi, dan kemudian meninggal dunia beberapa hari setelah ulang tahunnya.

 

“Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut, demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: “Aku hanya bersenda gurau” (Amsal 26:18-19).

Amsal ini menegaskan bahwa orang yang sembarangan bercanda adalah seperti orang gila yang menembakkan panah api, panah, dan maut. Sebuah tindakan yang tentu saja sangat membahayakan orang lain. Bahaya yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

 

Amsal ini tidak melarang orang untuk bercanda, tetapi kenalilah batasnya. Canda atau sendau gurau dapat meningkatkan keakraban. Namun, ketika canda itu tak lagi mengenal batas atau sembarangan, maka canda itu berbahaya.

 

Bercandalah secara sehat karena kita memang membutuhkan sukacita. Kenalilah batas: kenalilah waktu yang tepat untuk  bercanda dan lontarkan jenis candaan yang tepat agar canda kita memperkuat relasi dan bukan menghancurkannya.

(Wahyu Pramudya)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *