Renungan Berjalan bersama Tuhan

Gelisah

Gelisah

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Mazmur 77:1-11

Semua orang pasti pernah, bahkan sering mengalami kegelisahan di dalam dirinya. Kegelisahan itu muncul karena berbagai hal dan banyak faktor. Ada orang yang begitu khawatir tentang masa depannya sehingga tidak bisa tenang menjalani hidupnya. Setiap hari ia gelisah, tidur pun sering terganggu. Ada juga yang mendapat ancaman sehingga mengalami kegelisahan yang luar biasa. Atau orang-orang yang sedang menunggu pengumuman kelulusan sekolah akan gelisah mereka lulus atau gagal. Mereka yang mengajukan lamaran pekerjaan akan gelisah mereka diterima atau ditolak. Mereka yang menanti hasil prestasinya yang sedang dievaluasi. Hal lain yang juga dapat menimbulkan kegelisahan ialah ketika orang melakukan kesalahan atau ketidakjujuran dalam pekerjaan atau keluarganya. Ia akan merasa gelisah, perasaannya tidak enak, suasana hatinya tidak tenang, bahkan dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti mag, pusing, darah tinggi, dan sebagainya.

Martina Horner mengartikan gelisah sebagai “perasaan dan pikiran seseorang yang muncul terus-menerus secara negatif”. Oleh karena itu, kegelisahan akan bertindak sebagai kekuatan dan menghasilkan apa yang disebut oleh para ilmuwan sebagai “motif yang dihindari”. Orang yang gelisah adalah orang yang melihat masa depannya selalu negatif, merasa pasti akan gagal dan mengalami hal-hal yang tidak enak di dalam hidupnya. Oleh sebab itu, ia tidak bisa bersukacita, tidak mampu bersyukur terhadap apa yang dialaminya setiap hari. Kemurungan dan perasaan gagal terus menghantui dirinya. Pasti pengalaman yang demikian itu tidak enak, bukan saja pada dirinya sendiri, melainkan juga pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Orang lain akan tertular kegelisahan yang ditampakkannya, atau orang lain akan semakin berusaha menjauhinya karena suasana gelisah itu memang tidak enak.

 

Berbeda sekali dengan orang yang cukup bijak, yang mau mengenal dirinya dengan baik dan menata dirinya. Ia justru minta Tuhan agar memberikan kegelisahan positif di dalam dirinya pada saat ia semakin menjauh dari-Nya. Ia berdoa, “Ya, Bapa, berikan kegelisahan di dalam hatiku, ketika aku jauh dari pada-Mu.” Doa ini adalah doa yang menjadi tanda apakah ia masih dekat dengan Tuhan atau semakin jauh dari-Nya. Pada saat ia mengalami kegelisahan, maka ia tahu bahwa pada saat itu juga ia telah jauh dari Tuhan. Demikian juga dengan pengalaman pemazmur. Ia berkata, “Engkau membuat mataku tetap terbuka; aku gelisah, sehingga tidak dapat berkata-kata” (Mazmur 77:5). Pemazmur sadar betul, bahwa ketika ia mengalami kegelisahan, maka hal itu berasal dari Tuhan. Dengan demikian, maka ia akan kembali pada pimpinan-Nya, dan akan lebih mencari kehendak dan tuntunan-Nya. Marilah kita berdoa, seperti pemazmur tadi, untuk meminta indikator positif yang akan terus menuntunnya agar tetap hidup taat kepada Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *