Renungan Berjalan bersama Tuhan

Gereja Bertemu dengan Allah

Gereja Bertemu dengan Allah

Matius 18:15-20

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Anak-anak tampak berkumpul dengan sukacita di hari Minggu pagi yang cerah itu karena mereka akan segera mengikuti Ibadah Anak. Wajah mereka memancarkan keceriaan, tanpa beban berat, tanpa ada gurat pergumulan dan masalah. Yang tampak hanyalah canda tawa saat mereka berlarian ke sana kemari dengan riang. Ada juga yang mengobrol dengan penuh semangat. Kemudian, saat seorang pembimbing Ibadah Anak menyapa dan mengajak mereka memulai ibadah dengan hati dan sikap yang baik dan penuh hormat, mereka pun duduk tenang dan mulai memuji Tuhan. Itulah dunia anak, mereka belum merasakan beban kehidupan. Akan tetapi, memang seperti itulah kehidupan yang dikehendaki oleh Yesus. Dia menghendaki kita belajar hidup seperti mereka—lugu, jujur, menjalani hidup apa adanya karena tidak pernah merasa khawatir.

Hari Minggu adalah hari saat anak-anak merasa bersukacita karena mereka dapat beribadah, memuji Tuhan, membawa persembahan, berdoa, dan mendengarkan firman Tuhan. Mereka bisa merasakan kehadiran Allah. Mereka memuliakan Tuhan dan berdoa dengan segenap hati. Dengan bersemangat mereka berebut memasukkan uang ke kantong persembahan dan menyimak firman Tuhan yang disampaikan guru Sekolah Minggu.

Mengapa anak-anak dapat merasakan kehadiran Allah dalam hidup mereka? Inikah yang membuktikan bahwa Allah menjadikan anak-anak menurut gambar dan rupa-Nya. Allah juga memberikan roh kehidupan kepada anak-anak. Roh itu bersifat kekal. Dengan Roh itu Allah berbicara kepada mereka. Roh Kudus memampukan anak-anak untuk mengenal Allah dengan baik dan benar. Yesus berkata, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20). Komunikasi dari hati ke hati bersama Tuhan benar-benar mereka rasakan. Ibadah itu mendatangkan kekuatan dan sukacita bagi anak-anak. Dari pengalaman mereka kita dapat melihat bahwa ibadah yang sesungguhnya membuat kita dapat merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita. Dengan demikian, melalui ibadah kita dapat semakin melihat bagaimana Tuhan menguatkan kita. Pertolongan-Nya kita rasakan dan kita alami. Allah sendiri berfirman, “Aku adalah Allahmu dan kamu adalah umat-Ku” (Yeremia 30:22). Itulah ibadah yang sejati. Di dalam ibadah sejati terjadi perjumpaan antara Allah dengan umat-Nya. Bagaimana pengalaman itu bisa terwujud? Satu-satunya cara adalah mempersiapkan diri dengan baik dalam beribadah, baik itu mempersiapkan hati, pikiran, perasaan, dan kehendak kita. Seperti anak-anak kecil yang datang kepada Tuhan dengan penuh sukacita, marilah kita juga beribadah dengan cara yang benar dan diperkenan Tuhan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk menganggap serius dan perlu ibadah Minggu, dan bukan rutinitas belaka. Ajarlah aku ya Tuhan agar dapat mempersiapkan hati, pikiran, perasaan, dan kehendak menjelang ibadah. Aku ingin datang kepada-Mu seperti seorang anak kecil, dengan hati yang polos dan terbuka sujud menyembah-Mu.
  2. Tuhan, ajarkan kepada jemaat untuk beribadah dengan cara yang benar agar kami semua dapat mengalami perjumpaan pribadi dengan-Mu. Kami ingin agar baik melalui pujian, doa, pengakuan dosa, persembahan, pengakuan iman, mendengarkan frman Tuhan, Engkau memimpin semua pelayan, baik hamba Tuhan yang menyampaikan firman-Mu, penatua, pemandu pujian, pemusik, dan sebagainya. Kami rindu hadirat Tuhan benar-benar dirasakan dan berkat-Mu selalu menyertai kami melalui tangan para pelayan-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *