Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hardikan dalam Pengajaran

Hardikan dalam Pengajaran

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian daripada seratus pukulan pada orang bebal” (Amsal 17:10)

Siapa pun yang dilahirkan ke dunia ini dan kemudian bertumbuh semakin dewasa, pasti akan mengalami proses pendidikan sekalipun mereka tinggal di pedalaman, di tempat yang terpencil dan tidak terjangkau dengan sarana apa pun. Proses pendidikan pasti ada dan dimulai dari kehidupan keluarga masing-masing. Proses ini terjadi secara alamiah walaupun ada juga pendidikan yang diberikan dengan proses formal atau informal. Ada orang yang mendidik anak-anaknya dengan penuh pengertian, kesabaran, dan sikap menyesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan jiwa anak itu. Namun, ada juga orang yang mendidik anak-anaknya tanpa memperhatikan perkembangan jiwa si anak sama sekali tanpa memedulikan apakah anaknya masih batita, balita, anak-anak, remaja, atau pemuda. Semua diperlakukan sama seperti orang dewasa, yakni seperti dirinya sendiri.

Pengalaman-pengalamannya sendirilah yang diterapkan langsung kepada anak-anaknya. Tak heran ketika kekerasan demi kekerasan dialami setiap hari oleh anak-anaknya. Mereka adalah anak-anak yang sangat polos ketika dilahirkan, belum mengerti apa pun tentang apa yang ada dan yang terjadi di dunia ini. Kepolosan itu kemudian diwarnai dengan bentuk-bentuk kekerasan yang tidak sesuai dengan kemampuan dirinya. Bayangkan apa yang terjadi dengan pertumbuhan anak-anak yang demikian?

 

Amsal melihat secara langsung dan membuktikan melalui pengamatannya bahwa anak yang bebal adalah anak yang bertumbuh setiap harinya dengan pukulan-pukulan. “Seratus pukulan” menyatakan betapa banyaknya pukulan itu. Setiap kali anak-anak melakukan kesalahan atau tidak segera mengerti yang diajarkan, mereka bukannya diberi pengertian, melainkan malah dibentak, dimarahi, dan dipukul. Kebiasaan memukul sudah menjadi cara yang dianggap paling ampuh untuk mendidik seseorang agar menjadi baik. Namun, apa yang terjadi? Amsal melihat bahwa pukulan itu sama sekali tidak mempunyai dampak apa pun karena si anak tetap menjadi orang yang bebal.

 

Sebaliknya sebuah hardikan, yaitu peringatan keras dengan kata-kata yang tegas, justru akan membuat proses pendidikan semakin matang; menumbuhkan pengertian si anak. Kata-kata tegas, dan bukan pukulan, bisa memotivasi anak untuk berjuang keras memperbaiki diri, mendorong dirinya melakukan yang benar. Hardikan karena kasih akan bermakna. Amsal mengajarkan kepada kita bahwa cara kekerasan ternyata tidak bisa dipakai dalam proses pendidikan untuk mendewasakan anak. Pukulan tidak pernah menyelesaikan masalah apa pun karena pukulan dianggap sebagai kekerasan yang menyakitkan hati. Sedangkan hardikan, kata-kata yang tegas, akan membuat anak-anak berpikir, mencerna dengan baik, dan kemudian mengalami proses pendidikan yang semakin dewasa. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku belajar banyak bahwa bentuk kekerasan apa pun tidak memberikan proses belajar yang matang dan dewasa. Berbeda dengan kata-kata tegas yang dapat mengingatkan aku untuk menyadari apa yang kulakukan dan mengubah apa yang salah dalam diriku. Tuhan, pimpinlah aku untuk terus memberikan proses belajar yang baik.
  2. Tuhan, ajarlah kami selaku gereja mengenai proses belajar mengajar yang baik dengan memakai cara dan metode yang benar sehingga pembelajaran itu membawa pendewasaan bagi anak-anak. Kami berdoa untuk sekolah-sekolah Kristen supaya mereka menjalankan proses pendidikannya dengan baik, bukan dengan kekerasan atau pukulan, melainkan dengan hardikan yang mengandung kasih yang mendalam. Pimpinlah supaya sekolah-sekolah Kristen menghasilkan anak didik yang baik dan benar di dalam Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *