Renungan Berjalan bersama Tuhan

Istriku Bawel

Istriku Bawel

Yakobus 3:1-12

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Krowaski adalah pria yang ramah, sabar, dan penuh pengertian. Tetapi di matanya kesabaran dan kebaikan manusia itu ada batasnya. Dan ia percaya hanya Yesus yang memiliki kesabaran yang tiada berbatas. Ia bercerita bahwa suatu hari ia marah besar, tak seorang pun menyangka ia bisa sebegitu murka. Ia bertemu dengan seorang perempuan. Baginya, perempuan ini unik dan ulet, tahan banting, tegar dalam berbagai pergumulan yang bertubi-tubi dialaminya. Perempuan hebat yang kemudian dinikahinya itu juga sangat teliti, bahkan terlalu teliti. Sejak matahari menyingsing, ia sudah memberikan banyak perintah kepada pembantu rumah tangganya. Setelah anak-anak bangun tidur, semakin banyak tugas yang dilimpahkan kepada sang pembantu untuk mengurus anak-anak dan persiapan kerja sang suami. Istrinya tidak pernah bisa diam, dan cenderung perfeksionis, semua dilakukannya dengan sesempurna mungkin. Kesempurnaan itulah yang akhirnya memercik keributan-keributan kecil sehingga terlontar perkataan dari mulut Krowaski kepada George, sahabatnya, “Istriku bawel banget .

Pernyataan itu merupakan titik pemicu konflik yang meledak bagaikan bensin yang disulut api! Ternyata selama bertahun-tahun ia memendam kekesalan akibat bawelnya sang istri dan kini kesabarannya sudah habis. Setelah menyimak segala keluh kesahnya, George mengingatkannya akan pergumulan Yakobus. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah” (Yakobus 3:9). Kita harus senantiasa berhati-hati menjaga lidah kita. Dengan lidah yang sama, kita memuji Tuhan sekaligus mengutuk sesama kita. Lidah membuat suasana yang tenang dan damai menjadi penuh keributan, bahkan kekerasan. Adakalanya orang bawel mendatangkan hal-hal yang positif walaupun tak bisa dipungkiri bahwa kebawelan itu bisa memicu konflik dalam keluarga. Namun, yang terpenting adalah dampak dari perkataan kita. Renungkan saja apakah perkataan kita mendatangkan hal-hal yang membangun atau merusak? Menguatkan atau melemahkan? Memberi semangat atau putus asa? Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, kendalikan hati dan pikiranku. Biarlah Roh Kudus senantiasa menguduskan lidahku agar dapat membangun dan bukan merusak, menjadi berkat dan bukan menjadi batu sandungan, menguatkan dan bukan melemahkan, memberi semangat dan bukan membuat orang putus asa.
  2. Tuhan, sertailah kehidupan gereja yang kerap tidak menyadari bahwa konflik internal sering kali berawal dari lidah dan dari perkataan yang tidak terkendali, yang dapat menimbulkan rasa sakit hati dan membuat orang undur diri dari pelayanan. Komitmen pelayanan bisa sirna karena perkataan-perkatan dari rekan kerja yang menyakitkan. Ampunilah kami karena justru hal-hal seperti ini terjadi di dalam gereja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *