Renungan

Kata untuk Menata

Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

Amsal 15:1

Mulutmu, harimaumu. Pepatah ini ingin menegaskan pentingnya menjaga lidah atau mulut kita. Sama seperti harimau tak terjaga yang bisa mendatangkan bahaya, demikian pula perkataan yang tak terjadi bisa mendatangkan bahaya bagi diri sendiri atau orang lain. Tak terbilang perkelahian dan konflik bermula dari kata-kata yang tak terkendalikan, bukan? Ingatlah konflik terakhir di dalam rumah tangga, gereja, atau masyarakat. Bagaimana semuanya itu dimulai? Kerap kali dari kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan, bukan?

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Amsal 15:1).

Amsal ini menegaskan kata-kata dapat membawa pada dua hal yang berbeda: meredakan kegeraman atau sebaliknya, membangkitkan amarah. Dengan demikian, jagalah lidah atau mulut kita agar kata-kata yang meluncur membawa damai sejahtera dan bukan justru memperbesar konflik.

Namun, bagaimana jika kita tidak tahan mendengar perkataan yang menyakitkan hati dari orang lain? Dalam kondisi seperti ini mungkin mengambil sikap diam adalah yang terbaik. Diam lebih baik daripada melontarkan rangkaian kata yang hanya memperburuk situasi.

Amsal ini juga menegaskan kepada kita agar menggunakan kata-kata yang baik untuk memadamkan konflik yang sudah terjadi. Seperti air yang sanggup memadamkan nyala api, demikianlah kata-kata yang tepat sanggup menenteramkan hati yang gundah.

Pilihan kata menunjukkan siapa diri kita. Pakailah kata untuk menata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *