Khotbah Perjanjian Lama

Kekuatan Baru

Yesaya 40:21-31

Oleh: Pdt. Em. Stefanus Semianta 

Menanti  merupakan tugas berat, terutama kalau yang ditunggu tidak kunjung datang dan menjadi kenyataan. Aneka pertanyaan dapat muncul dalam hati di tengah sebuah penantian: Ada apa? Dalam kehidupan ini menanti dapat menjadi batu penguji kesabaran, kesetiaan dan penguasaan diri. Orang yang menanti dapat kehilangan kesabaran dan dapat berperilaku tidak dapat menguasai diri. Contoh: a) buruh yang menanti kenaikan upah. b) petani yang menanti hasil tanamannya. c) narapidana yang menunggu pembebasannya.  Mereka bisa menjadi tidak sabar dan tidak dapat menguasai diri, marah-marah atau sangat kecewa.(Yesaya 5:2-4, 59:11). Selama puluhan tahun di Babel, di tempat pembuangan, umat Allah Israel merasakan beratnya menantikan hari pembebasan mereka. Orang-orang saleh Yahudi itu merindukan untuk kembali ke tanah perjanjian dan duduk-duduk di bawah perkebunan anggur mereka; masuk bait Allah dengan sukacita. Ada penderitaan batin yang mendalam  di tanah pembuangan yang jauh dari Yerusalem, walau situasi sosial mereka tidak seburuk ketika dulu mereka di tanah Mesir. Mereka mengeluh: Tulang-tulang kami telah menjadi kering, pengharapan kami telah menjadi lenyap, kami sudah hilang (Yeh. 37:11). Demikian ratapan umat Tuhan di Babel. Mereka merasa lunglai dan tak kuat berdiri menantikan datangnya fajar penyelamatan. Mereka lemas secara rohani dan merasa tak lagi punya tulang untuk berdiri. Harapan mereka sudah pupus, identitas mereka telah hilang. Bait Allah dan Yerusalem yang menjadi kebanggaan mereka juga telah tiada. Pada hal itulah pusat kebanggaan mereka sebagai bangsa, baik di dalam iman maupun sebagai kerajaan yang berdaulat sebagai bangsa yang dikhususkan Tuhan. Di tengah situasi inilah Yesaya 40, hadir untuk menghiburkan mereka yang dilanda kepahitan di tanah pembuangan. Berita Firman Tuhan yang dibawa Yesaya ternyata telah membangkitkan semangat mereka yang pudar. Mereka didorong untuk tetap bertahan dan menantikan pembebasan yang dijanjikan Tuhan. Itulah cara yang tepat pada saat krisis: tetap menanti dengan setia. Dengan sikap demikian maka harapan tetap terpelihara. Dan semangat tetap menyala dengan baik pula. Di tengah keterpurukannya umat Tuhan sangat memerlukan dukungan semacam itu. Dan firman Tuhan yang disampaikan oleh Yesaya sungguh membakar semangat mereka untuk tetap menanti. Sehingga kondisi mereka seperti orang yang lemah tak berdaya yang mendapat kekuatan kembali dalam hidup mereka untuk berdiri dan berjalan, bahkan berlari karena orang-orang yang menantikan Tuhan akan mendapatkan apa yang mereka harapkan. Mereka yang hampir pudar semangatnya itu, ketika mereka menyambut kembali nasihat firman Tuhan dan tetap melakukan penantian dengan setia di tengah keterpurukan mereka, dikatakan bahwa mereka mendapat kekuatan baru. Hidup mereka bak rajawali yang kembali mampu terbang tinggi dengan kekuatan sayapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *