Renungan Berjalan bersama Tuhan

Keluarga dan Gereja

Keluarga dan Gereja

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Amsal 22:6

Di Amerika banyak gereja yang mempunyai program “Menjemput Bola”. Bentuk program ini adalah guru Sekolah Minggu menjemput anak-anak untuk beribadah pada hari Minggu. Banyak guru Sekolah Minggu yang datang dari rumah yang satu ke rumah yang lain untuk menjemput anak-anak. Tujuan mereka adalah untuk menyelamatkan anak-anak dari kehidupan moral yang semakin rusak. Jika sejak kecil ajaran yang benar dan firman Tuhan telah ditanamkan di dalam hati dan pikiran mereka, maka kelak ketika mereka dewasa, mereka tidak akan ikut arus pola dunia yang semakin bobrok. Namun, apa yang terjadi? Harapan gereja bahwa Sekolah Minggu dapat memberikan dasar hidup yang benar bagi anak-anak Tuhan ternyata gagal.  Setelah berjalan selama beberapa puluh tahun, ternyata program itu tidak mencapai sasaran yang tepat. Anak-anak Sekolah Minggu yang menginjak usia remaja malah menjadi anak-anak brandalan. Banyak di antara mereka yang kecanduan minuman keras, seks bebas, dan berani melawan orangtua.

Pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan program itu gagal? Mengapa pihak gereja atau Sekolah Minggu “tidak mampu” mendidik anak-anak itu dengan baik? Bukankah para guru Sekolah Minggu sudah bekerja keras dalam mengajar mereka? Setelah diteliti dengan saksama, kunci permasalahan yang membuat anak-anak itu menjadi remaja yang nakal ditemukan. Apa kuncinya? Tidak ada kerjasama yang baik antara gereja dan orangtua si anak. Ada beberapa hal yang sangat penting di sini, yakni: Pertama, ada nilai-nilai kebenaran yang ditanamkan gereja kepada anak-anak, dan itu tidak sama dengan apa yang diajarkan orangtua kepada anaknya. Anak-anak diajarkan aturan-aturan dan sopan santun berdasarkan firman Tuhan, tetapi ketika berada di rumah, mereka tidak menemukan hal itu pada diri orangtua mereka. Bahkan sebaliknya, mereka mendapatkan didikan yang terlalu keras dari orangtua, tidak ada kasih sayang, bahkan anak-anak tersebut dibiarkan tumbuh sendiri. Elizabeth Hurlock berkata, “Jika ada dua orang yang memberikan aturan yang sama, maka anak akan lebih mudah menaati. Namun, jika peraturan yang diberikan berbeda antara gereja dan orangtua si anak, maka anak-anak justru membuang semua aturan yang diberikan.” Ternyata teori Hurlock benar dan menjadi kenyataan bahwa para remaja yang dahulunya anak-anak Sekolah Minggu, hampir semuanya menjadi remaja yang rusak. Penyebabnya adalah karena tidak adanya kesepakatan dan kesamaan antara gereja dan pihak orangtua. Kedua, pola pendidikan Sekolah Minggu harus didukung, diketahui, dan menjadi dasar ajaran di setiap rumah tangga. Dengan kata lain, orangtua harus bekerjasama dengan gereja untuk mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Penerapan nilai-nilai yang tidak seragam akan menumbuhkan fungsi hati nurani anak tidak dapat mengenal mana yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, sikap gereja dan orangtua yang konsisten bekerjasama akan menghasilkan pelayanan yang indah karena mampu menanamkan nilai-nilai kristiani pada anak, dan itu akan dibawa mereka sampai dewasa. Amsal mengungkapkan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6). Proses pendidikan sejak masa kanak-kanak sangat penting agar di masa tua mereka tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan. Proses pendidikan itu dapat berjalan dengan baik jika gereja dan orangtua bersama-sama membesarkan anak-anak. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *