Renungan

Kualitas Hidup

Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya daripada seorang yang serong bibirnya lagi bebal.

(Amsal 19:1)

Suatu kali saya membeli jajan pasar pada seorang penjual keliling yang biasa berhenti di sebuah sudut jalan. Sambil menunjuk pada makanan yang saya ingin beli, saya perhatikan pakaian penjual itu terlihat bersih walaupun sudah ada lubang di sana sini. Mungkin ia tidak mempunyai cukup uang untuk membeli pakaian baru.

Setelah menerima jajanan itu dan uang kembalian, saya segera menuju mobil. Tiba-tiba penjual itu berteriak-teriak memanggil saya untuk kembali. Saya pun menoleh sambil berpikir, “Mungkin ia salah memberikan uang kembalian.” Ternyata benar, penjual itu salah memberikan uang kembalian. Uang kembalian yang diberikannya kepada saya kurang sehingga ia memberikan tambahan beberapa ribu rupiah kepada saya.

Saya sangat menghargai kejujurannya. Bisa saja ia membiarkan saya pergi, toh saya juga tidak mencermati jumlah uang kembalian itu. Sejak itu, penjual tersebut menjadi salah satu tempat langganan saya untuk membeli jajanan. Kejujurannya memberikan rasa aman bagi saya.

“Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya daripada seorang yang serong bibirnya lagi bebal” (Amsal 19:1).

Amsal menegaskan bahwa kualitas hidup seseorang tidak diukur dari kekayaannya. Kualitas hidup seseorang diukur dari kelakukannya. Kelakuan yang bersih akan mendatangkan penghormatan orang lain. Sementara seorang yang serong bibirnya dan bebal alias orang yang gemar memberitakan dusta dan keras kepala, mempermalukan dirinya sendiri. Tidak ada gunanya memelihara penampilan sedemikian rupa namun tidak memelihara kelakuan dan perkataan yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *