Renungan

Rajin Belum Tentu Baik

Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

(Amsal 19:2)

Suatu kali seorang ibu curhat tentang pembantunya kepada saya. “Pembantu saya sangat rajin, Pak. Saking rajinnya, lapisan teflon di wajan pun hilang lenyap gara-gara dicuci dan disikat dengan sekuat tenaga sampai bersih. Waktu saya menegurnya, pembantu itu dengan polos berkata, ‘Maaf bu, saya kira itu kotoran yang membandel, soalnya warnanya hitam.’ Saya tidak tahu harus marah atau tertawa. Rajin sih rajin, tapi ya memang belum pintar.”

“Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah” (Amsal 19:2).

Amsal ini menegaskan tentang betapa pentingnya pengetahuan yang berjalan seiring dengan kerajinan. Tanpa pengetahuan, kerajinan dapat salah arah, tak membuahkan hasil yang maksimal atau malah mengakibatkan hal yang buruk terjadi. Sama seperti ketidaktahuan pembantu pada kisah tadi.

Demikian juga dengan pengetahuan tanpa kerajinan menjadi tidak bermakna. Apa gunanya penuh pengetahuan namun malas mempraktikkannya? Apa gunanya pengetahuan yang ada di kepala namun tidak sanggup menggerakkan tangan dan kaki untuk bertindak?

Seperti mata uang yang memiliki dua sisi yang tak terpisahkan, demikian pula dengan pengetahuan dan kerajinan. Jika kita dapat menilai diri dengan jujur, maka yang manakah yang perlu kita upayakan lebih serius di dalam diri kita: pengetahuan atau kerajinan?

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *