Renungan Berjalan bersama Tuhan

Menangkap Angin

Gambaran itulah yang disampaikan oleh Amsal. Untuk membina sebuah keluarga harmonis, seluruh anggota keluarga perlu menjalani hidup dengan saling mengasihi. Kasih dapat saling menunjang, membantu, menolong, sehati dan sepikir. Apa yang dimaksud Amsal dengan “mengacaukan”? Jelas, orang yang mengacau adalah yang tidak tahu aturan. Orang tersebut tidak sadar bahwa dalam hidup ini ada aturan, sopan santun, tata krama, dan rasa hormat satu sama lain. Dalam berkomunikasi, ada bahasa yang benar, sopan, meneguhkan, menyemangati, memotivasi, dan memberi pengharapan. Namun, ada pula bahasa yang menyakitkan, merendahkan, menghina, melecehkan, membuat putus asa atau kecewa, dan sebagainya. Kita bisa memandang sesama dengan belas kasihan, memberikan semangat, atau menjadi berkat, tetapi kita juga bisa saling merendahkan, menyakiti, mengejek, atau meremehkan. Orang yang “mengacaukan” keluarga adalah mereka yang memakai bahasa negatif, menjengkelkan orang lain, dan sebagainya. Orang yang mengacaukan keluarga pasti tidak takut akan Tuhan dan yang hatinya melakukan kejahatan. Ia sudah meninggalkan Tuhan, maka hidupnya mengacaukan keluarga. Keluarga yang takut akan Tuhan dimulai dari semua anggota keluarga yang hidupnya berjalan bersama Tuhan dan setia melakukan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari. Apa pun yang terjadi dalam keluarga, baik yang menyenangkan atau menyedihkan, setiap orang dipanggil untuk saling menguatkan, bukan mengacaukan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *