Renungan Berjalan bersama Tuhan

Mahkota Suami

Mahkota Suami

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Istri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.” (Amsal 12:4)

Amsal kembali melihat bagaimana sebuah keluarga dapat menjalani hidup dengan harmonis? Hari lalu kita melihat bahwa jika salah satu anggota keluarga mengacaukan, semua akan menjalani kehidupan keluarga dengan sia-sia. Pada bagian ini, Amsal lebih menyoroti peran dan panggilan seorang istri dalam keluarga. Seorang istri mempunyai panggilan menjadi ibu rumah tangga sekaligus pendamping suami. Demikian pula, seorang suami mempunyai panggilan sebagai kepala keluarga dan pendamping istri. Peran dan panggilan hidup itu tidak bisa diganti dengan apa pun dan oleh siapa pun. Tidak bisa digantikan oleh seorang pembantu rumah tangga atau babysitter, bahkan oleh kakek, nenek, atau mertuanya. Setiap orang yang terpanggil untuk menjalani hidup berkeluarga memiliki peran masing-masing yang tidak dapat digantikan, maka peran dan panggilan sebagai suami atau istri harus dijalani dengan baik. Jika peran itu tidak dilakukan dengan baik, seluruh anggota keluarga tidak dapat menikmati keharmonisan.

Amsal mengatakan istri yang cakap akan menjadi mahkota suaminya. Apa yang dimaksud dengan istri yang cakap? Tidak lain adalah istri yang mampu menempatkan diri dan berperan sebagai pendamping suami dan ibu rumah tangga. Istri menjadi pendamping yang tunduk kepada suami. Tunduk di sini bukan berarti suami dapat berbuat sewenang-wenang sehingga bisa melakukan apa saja terhadap istrinya. Pengertian tunduk justru menempatkan suami sebagai kepala keluarga, di mana suami mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat. Jika suami tidak melakukan peran itu dengan baik, istri mempunyai hak sepenuhnya untuk mengingatkan! Namun, jika melakukan tindakan sebaliknya, misalnya mempermalukan suaminya, istri akan menjadi penyakit yang membusukkan tulang. Mempermalukan suami misalnya menjelek-jelekkan, memandang rendah, menghina, tidak taat, tidak sopan, dan sebagainya. Tindakan itu akan menyakiti suaminya, bahkan seluruh anggota keluarganya, seperti penyakit yang menusuk sampai tulang, begitu dalam dan menyakitkan. Tindakan yang demikian adalah tindakan yang tidak diperkenankan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *