Renungan Berjalan bersama Tuhan

Menimba Rancanganku

Menimba Rancanganku

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya” (Amsal 20:5)

Ada muncul rumus umum di dunia ini yang berbunyi “Sebagian besar orang gampang omong, ketimbang nglakoni (orang lebih mudah berbicara daripada melakukan)”. Betul, bukan? Kita sering menjumpai ada banyak orang yang sangat pandai berbicara, bahkan mampu mengembangkan bahan pembicaraan dengan sangat baik, ideal sekali, dan rasanya mudah untuk dijalani. Namun, semua itu tidak pernah menjadi realitas. Itu hanya sekadar wacana, bahan omongan yang sebenarnya tidak ada ujungnya. Misalnya ada orang yang sangat pandai berbicara tentang masalah pekerjaan yang dapat dilakukan. Semua sarana dibahas begitu menarik, dari penataan ruangan, fasilitas peralatan, cara produksi dan pemasaran, perhitungan keuntungan, dan sebagainya. Rasanya semua itu sudah siap di hadapannya, pemaparannya sangat matang. Namun, apa yang terjadi dalam realitasnya? Semua yang dikatakan itu tidak pernah terwujud. Semuanya hanya idealisme dalam pikiran saja. Itu semua hanya ada dalam angan-angan, hanya di awan yang sangat tinggi. Kalau didesak supaya jangan bicara saja dan mencoba untuk melakukannya, maka konfliklah yang muncul.

Itulah yang dikatakan oleh Amsal bahwasanya kita bisa mempunyai rancangan di dalam hati, dan juga rencana yang diungkapkan, dikeluarkan dari dalam hati. Rancangan itu begitu mendalam, seperti air yang dalam. Pepatah mengatakan, “Air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan.” Artinya, kalau air itu beriak, pasti pertanda air itu tidak dalam, diseberangi pun tidak menjadi masalah. Tetapi jangan sekali-kali melewati air yang tenang karena air di situ pasti sangat dalam dan dijamin orang pasti hanyut karena di dalamnya ada arus yang kencang. Amsal memberikan gambaran bahwa rancangan itu bisa dibuat sedemikian dalam, kokoh, kuat, dan bagus sekali. Namun, jika rancangan itu tidak dilakukan, maka semuanya akan sia-sia.

Bagi Amsal, orang yang pandai akan tahu cara menimba air yang dalam. Ia bukan saja mengkhayal tentang rancangan ideal yang diibaratkan sebagai air yang dalam, tetapi ia juga mampu menimba pelan-pelan air itu sampai menjadi kenyataan. Ia bisa menimba air yang dalam itu melalui proses yang wajar, bertumbuh perlahan, dijalani dengan tekun dan penuh kesabaran. Ia tidak akan berhenti untuk terus menimba, yang artinya terus mengeluarkan, mencari, sampai mendapatkan. Rancangan itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja, tetapi harus terus ditimba dan dikeluarkan sampai rancangan itu terwujud. Orang yang demikian adalah orang yang pandai dan berhikmat dalam rancangannya. Marilah kita melakukan rancangan yang telah kita buat. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, sertailah aku dan mampukan aku untuk menata hidupku ini dengan membuat rancangan atau perencanaan yang sangat baik dan mendalam, sekaligusnya melakukannya. Ajarlah aku untuk mau menimba dengan pelan tetapi pasti, sedikit tetapi nyata, sehingga rancangan itu terwujud dalam hidupku. Rancangan yang bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menjadi berkat bagi orang lain, baik dalam pekerjaan maupun pelayanan.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja supaya mampu membuat perencanaan yang baik, membuat visi dan misi yang jelas dan bukan hanya membuat konsep yang sangat bagus tetapi tidak pernah mewujudkannya menjadi realitas. Ampunilah kami kalau banyak program pelayanan yang disusun dengan baik namun tetapi tidak pernah terwujud. Pimpinlah kami supaya dapat membuat rancangan dengan baik dan mampu melaksanakannya dengan benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *