Khotbah Perjanjian Lama

Naaman Si Kusta

Naaman Si Kusta

2 Raja-raja 5:1-14

oleh: Jenny Wongka †

Pada satu hari Naaman sedang duduk santai di rumah mewahnya. Ia sedang bersenda gurau dengan bayi perempuannya yang mungil dan lucu. Pada saat ia sedang mengangkat bayinya yang sedang tertawa dengan manisnya, tiba-tiba ia melihat cairan yang jatuh dari lengannya. “Naaman,” istrinya menjerit, “apakah yang terjadi dengan lenganmu itu?” Ia mengamatinya, dan tak lama kemudian mukanya menjadi muram dan sedih. Ia tahu bahwa itu adalah pertanda penyakit kusta, jenis penyakit yang sangat umum pada masa itu. Selanjutnya ia segera mengunjungi tabib, dan apa yang disampaikan oleh sang tabib itu sungguh menakutkan, walaupun sesuai dengan dugaannya.

Anda pasti dapat membayangkan perasaan Naaman, seorang panglima yang gagah perkasa, manakala ia mendapati dirinya sebagai seorang penderita kusta. Kisah tentang Naaman dan kesembuhannya tercatat dengan indah sekali di dalam 2 Raja-raja pasal 5. Saya mengajak Anda untuk menimba beberapa pelajaran melalui bagian ini.

(1) Penyakit Kusta

“Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia Tuhan telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta” (2 Raja-raja 5:1).

Naaman adalah seseorang pejabat tinggi yang terpandang, berpengaruh, dan berkuasa. Ia pun seorang panglima tentara Aram, yang memimpin beribu-ribu tentara dalam medan peperangan. Tetapi pahlawan tentara kesayangan raja ini sedang sakit kusta.

Inilah lukisan kehidupan umat manusia. Seseorang yang secara duniawi bergelimpang kehormatan dan sanjungan banyak orang, memiliki pengaruh besar, prestise sosial tidak luput dari penyakit kusta secara rohani.

Sebenarnya kenyataan itu tidaklah mengherankan., karena terbukti ada banyak orang yang tidak suka mendengar kalimat tersebut, dan itulah yang menunjukkan keberdosaan mereka. Suka atau tidak, inilah kondisi yang sebenarnya terjadi di dalam hati manusia. Allah berfirman melalui nabi Yeremia di dalam Yeremia 17:9 “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Itulah yang Allah temukan manakala Dia mengamati kehidupan umat manusia.

Segala kelicikan yang dimaksudkan nabi Yeremia adalah segala sesuatu yang kita sebut sebagai dosa —kelicikan dalam perkataan, pemikiran, perilaku, sikap— semua  terpancar dari hati yang licik. Yesus sendiri pernah menyinggung hal ini dalam Matius 15:18-19: “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.”

Di dalam hati manusia dapat ditemukan segala bentuk rasa dengki, iri hati, kebencian, keegoisan, hawa nafsu, kemunafikan dan ketamakan. Inilah kenyataan yang tidak mungkin dapat dipungkiri: manusia yang hidup jauh dari Allah bagaikan seorang yang terkena kusta rohani.

(2) Instrumen Penyembuhan

“Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada istri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: ‘Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.’” (2 Raja-raja 5:2,3).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *