Renungan Berjalan bersama Tuhan

Orang Benar Berkata

Orang Benar Berkata

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Filipi 2:1-4

Nasihat umumnya disampaikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda karena ia dianggap lebih berpengalaman dalam hidupnya. Pengalaman itu menjadi guru yang baik sehingga apa yang pernah dialami, khususnya yang tidak baik, yang pahit, dan menyakitkan, atau kegagalan yang pernah terjadi, jangan sampai terjadi lagi pada masa yang akan datang. Pengalaman tentang kegagalan tentunya menjadi guru yang baik bagi keberhasilan di masa mendatang. Oleh karena itu, dalam perjalanan hidup kita selalu ada orang-orang yang memberi nasihat. Ada beberapa nasihat yang disampaikan turun-temurun, atau diucapkan oleh para filsuf. Socrates, orang Yunani, berkata, “Jadilah bijaksana, kenalilah dirimu sendiri!”

Orang Roma berkata, “Jadilah perkasa, disiplinkanlah dirimu sendiri!” Kalangan agama berkata, “Jadilah manusia yang baik, bersenang-senanglah hari ini sepuas-puasnya karena esok engkau akan mati!” Pengikut Epikuros berkata, “Bergairahlah, reguklah kenikmatan untuk memuaskan dirimu sendiri!” Para pendidik berkata, “Berakal budilah, luaskanlah pandangan dan pikiranmu!” Ahli jiwa berkata, “Milikilah keyakinan diri, nyatakanlah keberadaan atau identitasmu dengan penuh keyakinan!” Kaum legalis berkata, “Jadilah orang yang alim, saleh, dan batasilah dirimu dengan aturan yang benar!” Penganut humanisme berkata, “Mampukanlah dirimu, percayalah pada dirimu sendiri!” Pengikut aliran materialisme berkata, “Puas-puaskanlah dirimu, biarlah dirimu melakukan apa yang diinginkan hatimu! Jika semua itu dilakukan, maka kebahagiaan hidup akan kaualami!”

 

Bagaimana dengan kita? Apa yang kita katakan untuk menjalani hidup dengan benar? Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika Dia datang ke dunia dan apa yang diajarkan-Nya kepada kita? Kalau kita mengamati apa yang dikatakan orang, sekalipun ia terkenal sejagat raya seperti Socrates, semua perkataan mereka tampak jelas berpusat pada diri sendiri. Kepuasan, kebaikan, atau kebajikan dalam hidup ini, bisa dilakukan dengan kekuatan diri sendiri dan ditujukan bagi kepentingan diri sendiri! Kalau kita memperhatikan semua nasihat para filsuf itu, tampak jelas bahwa apa yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Berbeda dengan Tuhan Yesus. Dia berada di dalam dunia bukan untuk keuntungan dan kepentingan-Nya sendiri, melainkan untuk kebaikan dan keselamatan orang lain. “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani …” (Markus 10:45). Maka dari itu, filsafat hidup Paulus adalah “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3-4). Bentuk kebahagiaan dan sukacita hidup seharusnya seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Paulus pun berpendapat bahwa hidup yang memberi kepuasan bukanlah hidup yang mementingkan diri sendiri. Bukankah ini terbalik dengan realitas dunia? Firman Tuhan mengingatkan kita agar dengan rendah hati kita melihat orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri, dan dengan demikian kita dapat menghargai orang lain. Marilah kita terus belajar seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *