Renungan Berjalan bersama Tuhan

Perempuan dan Rumahnya

Amsal mengatakan, “Perempuan Bijak” mampu mendirikan rumahnya sedangkan “Perempuan Bodoh” akan meruntuhkan bangunan itu dengan tangannya sendiri. Mengapa perempuan dan di mana laki-lakinya? Bukankah laki-laki itu kepala keluarga? Pasti, tidak ada yang salah dalam ungkapan Amsal ini. Kepala keluarga, seorang laki-laki, adalah orang yang membangun struktur sebuah keluarga. Ia adalah orang yang meletakkan fondasi dan tiang bangunan sebagai tonggak berdirinya tembok yang kokoh di dalam keluarganya. Fondasi itu adalah prinsip hidup takut akan Tuhan, menempatkan Tuhan yang menjadi dasar, akar, dan landasan bangunan. Bukan dalam konsep, tetapi dijalani dalam realitas hidupnya. Dengan dasar bangunan yang kokoh itu, maka kemudian dibangunlah bentuk yang indah dan serasi, warna tembok, hiasan yang menempel, tata ruang, penempatan dekorasi dan bunga, dan sebagainya. Penataan itu merupakan bidang dari seorang arsitektur, yang dapat digambarkan dengan seorang istri. Wujudnya adalah dengan menjadi pendamping yang setia dan ulet, mengingatkan dalam kebenaran Tuhan, memberikan semangat ketika putus asa, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan sebagainya. Jika rumah diatur oleh perempuan bijak, maka keluarganya akan bertumbuh dengan sehat dan harmonis. Namun, perempuan yang bodoh akan merusak keluarganya sendiri, karena memang tidak bisa mengurus dengan baik, bahkan tidak bertanggung jawab. Hanya perempuan bijak yang mampu membangun rumahnya dengan kokoh. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *