Renungan Berjalan bersama Tuhan

Saya Tidak Tahu

Saya Tidak Tahu

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 26:69-75

Kita sering mendengar orang berkata, “Saya tidak tahu,” atau kita sendiri juga sering berkata demikian. Apa sebenarnya arti kalimat itu? Pasti ada alasannya, bukan? Pertama, mungkin orang berkata demikian karena memang orang itu benar-benar tidak tahu tentang hal yang ditanyakan atau peristiwa yang terjadi. Kedua, orang itu pura-pura tidak tahu. Dua pernyataan itu memiliki dampak tanggung jawab yang sangat berbeda. Orang yang tahu dan berani mengatakan apa yang disaksikannya adalah orang yang bertanggung jawab. Orang yang benar-benar tidak tahu adalah orang yang mengungkapkan kejujuran hatinya menyikapi apa yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan orang yang tahu tetapi pura-pura tidak tahu adalah orang yang tidak berani bertanggung jawab atas apa yang dilihat dan disaksikannya. Ia berbohong! Ia tidak mau mengambil risiko dan tidak mau terlibat dalam kesulitan. Dengan demikian, ia merasa lebih aman berkata, “Saya tidak tahu.”

Lalu, bagaimana jika masalah tahu dan tidak tahu itu dikaitkan dengan pengenalan pada Allah? Bila orang bertanya, “Apakah Anda tahu tentang Tuhan?” Maka jawabnya bisa dua: tahu atau tidak tahu. Tahu jika orang itu memang sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Ia dapat menyaksikan siapa Tuhan yang dikenal dan dipercayainya itu. Ia tahu karena firman Tuhan mengatakan dengan jelas siapa Allah itu. Namun, bisa juga ia berkata bahwa ia tidak tahu sekalipun ia sebenarnya tahu, kenal, dan percaya pada firman Tuhan. Ia seperti Petrus ketika ditanya oleh para budak pada saat Tuhan Yesus ditangkap. Bagaimana mungkin Petrus tidak tahu tentang Yesus? Bukankah ia murid-Nya yang telah dididik selama tiga tahun dan berjalan bersama-Nya? Namun, ia tetap berkata, “Tidak tahu” (Matius 26:69-75). Jelas jawaban ini bukan karena Petrus tidak tahu dan tidak mengenal Yesus, melainkan karena ia mau lari dari tanggung jawab! Ia tidak mau dan tidak berani mengambil risiko dari apa yang diketahuinya. Terlalu berat baginya menanggung beban itu. Maka dari itu, ia memutuskan lebih baik menyangkal agar aman. Sikap ini jelas tidak benar karena ia berperan sebagai pengkhianat.

Meskipun demikian, Tuhan Yesus tetap mengasihi Petrus. Yesus sangat mengerti situasi dan kondisi Petrus saat itu. Jawaban yang tidak jujur dan bohong ini disebabkan karena Petrus takut ditangkap dan dianiaya seperti Gurunya. Yesus memulihkannya dan memberikan kekuatan serta pembenaran sehingga setelah bertobat, Petrus dengan beani berkata, “Saya tahu! Saya mengenal benar siapa Tuhan Yesus itu.” Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk jujur terhadap diriku sendiri, terhadap orang lain, dan terlebih lagi terhadap Engkau.
  2. Tuhan, berilah aku kekuatan ketika imanku diperhadapkan pada situasi dan kondisi yang penuh mara bahaya, suasana yang tidak aman, ancaman, dan sebagainya. Demikian juga dalam kehidupan bergereja, biarlah Gereja memberi kesaksian yang terus menegakkan kebenaran dan menebarkan kasih-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *