Renungan

Sekerat Roti yang Nikmat

Sekerat Roti yang Nikmat

 

Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, daripada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.

(Amsal 17:1)

 

Apa yang membuat suatu makanan terasa begitu lezat? Tentu saja kepiawaian orang-orang yang mengolah makanan tersebut adalah salah satu faktor penentu kelezatan sebuah makanan. Namun, adakalanya suatu makanan tidak terasa kelezatannya karena suasana hati yang kurang baik. 

 

Suatu kali saya terpaksa menikmati makanan dalam kondisi yang tidak baik. Kaca mobil  baru saja dipecah oleh pencuri, dan banyak barang berharga lenyap. Sebenarnya nafsu makan saya hilang, tetapi toh tetap harus makan karena saya masih harus melanjutkan perjalanan dan mengurus beberapa hal yang lain. Dalam kondisi seperti ini, saya pun kehilangan selera makan, padahal itu makanan favorit saya selama ini.

 

“Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, daripada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan” (Amsal 17:1). Amsal ini hendak mengajarkan betapa pentingnya menjalin relasi dengan orang lain agar kita hidup di dalam ketenteraman. Dalam ketenteraman, sekerat roti kering pun akan terasa nikmat. Sebaliknya, dalam suasana perbantahan atau konflik, daging pun tidak akan terasa nikmat. Ah, ternyata kita membutuhkan lebih dari sekadar makanan yang enak. Kita butuh suasana yang tak kalah enaknya pula.

 

Mari kita membina relasi yang baik di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Di dalam relasi yang baik, kita pun akan dapat menikmati hal-hal terbaik di dalam hidup ini.

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *