Renungan Berjalan bersama Tuhan

Upah Hukuman dan Pengajaran

Upah Hukuman dan Pengajaran

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Jikalau si pencemooh dihukum, orang yang tak berpengalaman menjadi bijak, dan jikalau orang bijak diberi pengajaran, ia akan beroleh pengetahuan” (Amsal 21:11)

Kita sering menemui hal-hal yang kontradiktif, misalnya ada orang yang pandai dan bodoh, si kaya dan si miskin, si gemuk dan si kurus. Sekarang, kitab Amsal ingin membahas si pencemooh dan si bijak. Bagaimana kehidupan mereka? Jelas, si pencemooh hanya membual dalam berelasi dengan orang lain. Apa yang dikatakan memang sangat meyakinkan sehingga membuat orang yang mendengarnya percaya, tetapi pada kenyataannya ucapannya hanyalah bualan belaka. Pembual tidak berbeda dengan pembohong. Orang menyebutnya dengan “omdo” (omong doang). Maka dari itu, seorang pembual tidak dapat dipercaya. Apa yang dilakukannya tidak dalam kejujuran, penuh dengan tipuan.

Sikap apa yang harus dilakukan untuk menghadapi pembual? Dengan tegas Amsal menyatakan bahwa mereka harus dihukum. Jika tidak dihukum, kebiasaan membualnya itu tidak pernah berhenti. Hukuman akan menjadi pembelajaran disiplin supaya ketidakbenaran yang dilakukan tidak diulangi lagi. Hukuman bertujuan supaya orang tersebut jera dan bertobat. Selain itu, hukuman akan membuat orang yang tidak berpengalaman menjadi bijak. Hukuman bagi pencemooh menjadi pelajaran bagi orang yang tidak berpengalaman karena ia bisa belajar dari pencemooh tersebut. Ia akan belajar mengungkapkan hal yang benar dan jujur. Dengan demikian, ia akan bertambah bijak.

Jika orang bijak mendapat pelajaran, pasti ia akan memiliki pengetahuan yang lebih luas lagi. Pengalaman-pengalaman akan kebenaran, keadilan, dan kebaikan menjadi realitas dalam hidup sehari-hari, Itulah yang menambah pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud di sini bukan saja ilmu pengetahuan, melainkan juga pengetahuan kehidupan yang semakin bijak. Marilah kita saling belajar mendisiplin diri untuk hal-hal yang tidak benar supaya kebenaran, kebaikan, dan kejujuran menjadi pernyataan kasih yang riil dalam hidup bermasyarakat. Bila itu terealisasi, maka kita tidak perlu lagi merasa takut atau penuh kecurigaan terhadap orang lain karena semua orang dapat mengatakan kebenaran dan kejujuran. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, berilah aku sikap dan perkataan yang jujur, bukan menjadi pencemooh dan pembual. Konsep dunia kerap mengatakan bahwa orang yang pandai berbicara dan bersilat kata lebih mudah diterima dan memiliki banyak teman. Orang yang berani berbicara dengan lantang walaupun kebenarannya belum tentu terwujud lebih disukai banyak orang. Orang yang berani memberikan janji-janji manis, harapan-harapan yang muluk, seolah-olah mampu memperbaiki kondisi masyarakat yang miskin, rusak, dan sebagainya. Mereka malah bisa diterima masyarakat. Tuhan, tolonglah aku untuk tidak terjebak dalam keadaan seperti itu.
  2. Tuhan, bimbinglah kami sebagai gereja agar dapat memperlengkapi anggota jemaat untuk berani berkata-kata dengan benar, bukan membual dan memberikan janji kosong. Pimpinlah kami agar dapat memperlengkapi anggota jemaat yang terlibat langsung dalam politik praktis, mereka yang tergabung dalam partai-partai, yang duduk sebagai anggota Dewan, dalam pemerintahan, dan sebagainya. Biarlah apa yang dikatakan dan dijanjikan benar-benar diwujudkan dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *