Khotbah Topikal

Aku Selalu Hadir untukmu

 

Pada kesempatan yang indah ini, Ia juga merindukan  hadir dalam kehidupan kita semua dengan masing-masing pergumulan yang kita hadapi.  Baik kita sebagai  anak-anak, pemuda-remaja, para orang tua dan lanjut usia.  Ia ingin bahwa kehadiran-Nya disambut baik oleh orang-orang yang dicintainya dengan sukacita.  Bukan sebatas pujian dan kata-kata, tetapi dihayati dan diwujudkan dalam tindakan dan perilaku hidup sehari-hari.  Oleh karena itu ketika kita berdoa, kiranya kita selalu berdoa tidak hanya sebatas kata-kata indah namun dengan kesungguhan hati untuk dapat merasakan kehadiran-Nya senantiasa.

 

Sebagai penutup ada sebuah kisah menarik yang perlu kita renungkan tentang kasih seorang ayah yang menyatakan ”Aku selalu hadir untukmu.”

 

Seorang ayah berdiri di depan puing-puing bangunan sekolah yang hancur karena gempa berkekuatan 8,2 skala richter di Armenia.  Ia teringat pada anaknya yang diantarnya.  Tadi pagi, ia memberi kata-kata perpisahan kepada anaknya, “Nak, Ayah akan selalu hadir untukmu dalam segala keadaan.  Ingatlah itu!”  Ia berusaha tegar, tetapi kepiluan hatinya tidak dapat dibendung lagi, akhirnya dia pun menangis. Kemudian ia menguatkan hatinya dan mulai berkonsentrasi untuk mengingat letak ruang kelas dimana anaknya berada.

Setelah lama berpikir, akhirnya dia berjalan ke posisi yang diyakininya sebagai ruang kelas anaknya, yaitu di sudut kanan belakang gedung yang sudah rata dengan tanah itu. Ia mencari linggis, lalu mulai menggali reruntuhan gedung itu.  Sementara beberapa orang tua murid lainnya berdiri menangis, menepuk-nepuk dada mereka, dan berkata dengan lirih, “Anakku…anakku…!”

Beberapa orang tua murid dan para relawan yang ada di sana berusaha menarik pria itu untuk keluar dari atas puing-puing tersebut. “Pak, menjauhlah dari sana, karena itu bisa membahayakanmu. Nanti kami yang akan membereskannya,” kata petugas yang ada di lokasi tersebut.  Tetapi Bapak itu justru berkata: “Apakah Anda mau membantu saya sekarang?” tanya pria itu, tetapi petugas itu tidak menjawab pertanyaannya.

Pria itu tidak peduli dengan pendapat dan larangan orang lain, ia terfokus pada pencarian anaknya.  Ia terus menggali, dari satu jam, enam jam, dua belas jam, dua puluh empat jam, … tiga puluh enam jam.  Pada jam ketiga puluh delapan ia berhasil membongkar sebongkah puing besar.  Kemudian di bawah puing itu, terdengar suara beberapa anak kecil, lalu pria itu berteriak, “Armand…!!!”

Dari bawah terdengar jawaban, “Ayah, aku di sini. Aku tahu bahwa ayah pasti akan datang. Ayah, aku memberitahukan teman-teman, bahwa kalau Ayah selamat, Ayah pasti menyelamatkan kami, karena Ayah berjanji akan selalu hadir untukku. Hari ini, engkau telah memenuhi janjimu, Ayah!”
“Bagaimana keadaan di bawah, Nak?” tanyanya kembali.
“Kami yang selamat ada empat belas orang.  Kami lapar, haus, dan kedinginan, tetapi syukurlah karena Ayah sudah datang untuk menolong kami!”
“Nak, sekarang ulurkanlah tanganmu ke atas agar aku dapat mengangkatmu!”
“Tidak Ayah, bukan aku yang pertama, melainkan teman-temanku. …… Aku akan menjadi orang yang terakhir untuk naik, karena aku yakin, bahwa Ayah akan selalu ada untukku!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *