Renungan Berjalan bersama Tuhan

Aku untuk Kamu

Aku untuk Kamu

Roma 12:9-21

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”  (Roma 12:15). Ibu Maria kerap merumpi dengan sahabat-sahabatnya yang mempunyai profesi yang sama sebagai ibu rumah tangga. Aktivitas merumpi itu dimulai sejak mengantar anaknya yang ke play group. Sambil menunggui anaknya bersama-sama dengan ibu-ibu yang lain, maka terbentuklah satu komunitas para ibu yang sering kumpul, kompak, ke mana-mana hampir selalu bersama. Jika para ibu sudah berkumpul, pekerjaan utama mereka adalah menunggui anak-anak mereka. Namun, di sela waktu itu, mereka kerap menyempatkan diri berjalan-jalan di mal-mal, makan bersama, dan mengobrol dari topik A sampai Z. Mereka sama sekali tidak bosan merasani siapa pun; masalah orang lain; teman-teman semasa SMA atau kuliah, keluarga orang lain, sampai para suami mereka sendiri. Percakapan kecil bisa menjadi besar, yang biasa bisa menjadi mendalam. Dimulai dari orang luar yang tidak mereka kenal sampai pada masalah-masalah yang sangat pribadi.

Yang menarik dari kelompok Ibu Maria ini adalah mereka memulai kelompoknya dari orang-orang yang dulunya sama sekali tidak saling mengenal. Pada awalnya mereka hanya saling memandang, melempar senyum, melontarkan kata-kata yang berbasa-basi seperti “Ngantar anak ya?”, “Anaknya laki atau perempuan?”, “Tinggal di mana?”, “Anaknya kelas apa?”, dan sebagainya. Karena seringnya bertemu dan menunggui anak bersama, maka pertanyaan-pertanyaan yang basa-basi itu berkembang menjadi semakin dalam. Ibu Maria mulai berani bertanya “Apa pekerjaan suamimu?”, “Bagaimana karakter suamimu, keras, lemah lembut, kasar, tertutup, terbuka?” Ia bahkan berani melontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi seperti apakah kamu puas dengan suamimu, apakah kamu merasa bangga dan bahagia, apakah kamu selalu mendapatkan pujian atau caci maki, apakah ia orang yang mau melayani atau suka main perintah saja, apakah ia bisa menjadi kepala keluarga yang bijak ataukah kamu yang malah mengurusi semua masalah rumah tangga, ia orang yang cerewet atau pendiam, kamu di rumah dominan apa tidak, kamu menjadi “penjajah” suami dan anak-anak atau sebaliknya, dan masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab karena terasa sangat berat dalam menjalaninya setelah pernikahan. Berbeda dengan saat berpacaran. Akhirnya, mereka sama-sama saling menangisi kehidupan bersama dan saling bersukacita bersama. Mereka menjadi kelompok yang saling mendoakan dan terus belajar mengubah diri sebelum mengharapkan orang lain berubah! Mereka akhirnya benar-benar menjalani Roma 12:15.

Realitas kehidupan anak-anak Tuhan menjadi kenyataan yang sangat indah, mereka benar-benar menjadi komunitas jemaat yang saling menolong dan menguatkan. Mereka menjadi satu hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari, ikut bersukacita ketika yang lain bersukacita, ikut menangis ketika ada yang berduka. Yang berduka dikuatkan. Rasa duka yang berat menjadi terasa ringan karena ada banyak sahabat yang ikut meringankan dukanya. Itulah seharusnya kehidupan anak-anak Tuhan yang bisa ikut saling merasakan dan berbagi kebidupan dengan sesamanya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *