Renungan Berjalan bersama Tuhan

Aku untuk Kamu

Yang menarik dari kelompok Ibu Maria ini adalah mereka memulai kelompoknya dari orang-orang yang dulunya sama sekali tidak saling mengenal. Pada awalnya mereka hanya saling memandang, melempar senyum, melontarkan kata-kata yang berbasa-basi seperti “Ngantar anak ya?”, “Anaknya laki atau perempuan?”, “Tinggal di mana?”, “Anaknya kelas apa?”, dan sebagainya. Karena seringnya bertemu dan menunggui anak bersama, maka pertanyaan-pertanyaan yang basa-basi itu berkembang menjadi semakin dalam. Ibu Maria mulai berani bertanya “Apa pekerjaan suamimu?”, “Bagaimana karakter suamimu, keras, lemah lembut, kasar, tertutup, terbuka?” Ia bahkan berani melontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi seperti apakah kamu puas dengan suamimu, apakah kamu merasa bangga dan bahagia, apakah kamu selalu mendapatkan pujian atau caci maki, apakah ia orang yang mau melayani atau suka main perintah saja, apakah ia bisa menjadi kepala keluarga yang bijak ataukah kamu yang malah mengurusi semua masalah rumah tangga, ia orang yang cerewet atau pendiam, kamu di rumah dominan apa tidak, kamu menjadi “penjajah” suami dan anak-anak atau sebaliknya, dan masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab karena terasa sangat berat dalam menjalaninya setelah pernikahan. Berbeda dengan saat berpacaran. Akhirnya, mereka sama-sama saling menangisi kehidupan bersama dan saling bersukacita bersama. Mereka menjadi kelompok yang saling mendoakan dan terus belajar mengubah diri sebelum mengharapkan orang lain berubah! Mereka akhirnya benar-benar menjalani Roma 12:15.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *