Renungan Berjalan bersama Tuhan

Anak yang Menganiaya

Anak yang Menganiaya

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Anak yang menganiaya ayahnya atau mengusir ibunya, memburukkan dan memalukan diri” (Amsal 19:26)

Suatu pengalaman yang sangat memilukan ketika ada seorang oma yang berusia sangat lanjut, tinggal seorang diri. Badannya begitu kurus, terbaring lunglai sekalipun wajahnya selalu memberikan senyuman sukacita. Siapa pun yang berjumpa dengan Oma Lovely, pasti mendapatkan berkat yang luar biasa. Ia seorang yang ramah, penuh cinta kasih, dan tidak pernah mengeluh dengan apa yang dialaminya. Suka dan duka dijalani sebagai bagian dari hidup yang begitu kompleks. Bagi Oma Lovely, hidup ini adalah untuk dijalani bersama Tuhan. Oma percaya bahwa dalam hidup ini tidak ada sahabat yang sejati selain Tuhan Yesus saja. Oma ini dikarunia delapan anak, cukup banyak. Memang orang kuno memiliki semboyan “banyak anak banyak rejeki”. Memang menjadi realitas bahwa semua anaknya banyak rezeki. Oma ini sejak muda sudah menjadi janda. Sang suami yang dikasihinya telah dipanggil Tuhan karena serangan jantung.

Dengan susah payah, memeras keringat, dan penuh semangat yang tak pernah pudar, oma membesarkan delapan anaknya itu. Lima di antaranya menjadi usahawan yang sukses, dan tiga anak lainnya menjadi dokter yang sangat terkenal. Semua anak memang hidup makmur, banyak rezeki. Namun yang sangat disayangkan, kedelapan anak itu tidak mampu memelihara satu orang, yaitu ibunya sendiri. Oma itu sering mengatakan bahwa satu orang bisa membesarkan delapan orang, tetapi delapan orang tidak mampu memelihara satu orang. Sang oma dalam menjalani hidupnya tidak pernah menyesal, merasa marah, apalagi membenci anak-anaknya. Justru sebaliknya, oma itu bangga sekali dengan anak-anaknya. Bangga karena sudah membesarkan mereka dengan baik. Semua anaknya sudah menjadi orang-orang yang sukses. Ia bangga karena tugas dan panggilannya sebagai seorang ibu sudah selesai. Bangga karena ia tidak menyaksikan anak-anaknya hidup dalam kesusahan. Hebat bukan Oma Lovely?

Sungguh suatu pengalaman yang ironis. Oma Lovely, tinggal di sebuah panti wreda, di kamar yang kecil, terkadang terasa pengap, sementara semua anaknya tinggal di rumah yang cukup megah. Sang oma sama sekali tidak menuntut dari anak-anaknya. Ia tidak mau merepotkan anak-anaknya, ia lebih menikmati tinggal di panti wreda tanpa ada beban sedikit pun.

Amsal memberikan peringatan bahwa anak yang melupakan ayah dan ibunya, perbuatannya itu akan memalukan diri mereka. Semua orang pasti akan membicarakan bahwa ada anak yang tidak mengasihi ibunya. Hal itu pasti tidak memberikan kesaksian yang baik sebagai anak-anak Tuhan. Mempermalukan dirinya sendiri dan menjadi batu sandungan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku bersyukur karena sampai hari ini aku boleh menyaksikan, mengalami, dan hidup bersama orangtuaku, juga kakek neneku. Tolonglah aku agar mengasihi mereka dengan hati yang tulus, bersyukur, dan berterima kasih atas keberadaan orangtuaku dan kakek nenekku karena melalui mereka, aku ada seperti saat ini. Ajarlah aku mengasihi mereka bukan dengan kata-kata, melainkan juga dengan perbuatan yang dapat menyenangkan hati mereka.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja untuk terus mengajarkan bagaimana menghormati orangtua dengan segenap hati. Pimpinlah gereja supaya dapat berperan dalam mengarahkan dengan benar jika ada anggota jemaat yang menempatkan orangtua ke panti wreda, bukan karena tidak mau mengurus, tetapi karena lebih mengutamakan kepentingan orangtua yang membutuhkan komunitas yang sebaya. Pimpinlah Komisi Lanjut Usia supaya dapat memberikan kekuatan dan pengharapan bagi para kaum lansia di masa tuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *