Renungan Berjalan bersama Tuhan

Apakah Persaingan Bersifat Merusak?

Apakah Persaingan Bersifat Merusak?

Imamat 19:1-18

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Disadari atau tidak, sejak kecil kita sudah bertarung dalam arena persaingan. Pak Karyo mempunyai dua anak kembar. Tanpa disadari ia kerap memuji yang satu dan meremehkan yang lain. Istrinya pun demikian. Perkataan seperti “Kamu tidak seperti kakakmu yang lebih ini dan itu” acapkali terdengar. Dari perlakuan itu, maka si kembar mulai bersaing. Penampilan dan prestasi belajar menjadi bahan persaingan untuk menarik pujian orangtua. Berbekal bakat memasak, setelah dewasa mereka membuka restoran di sebuah kota besar. Persaingan mereka semakin sengit. Mereka bahkan mengutus mata-mata untuk mengawasi bisnis saudaran kembarnya. Mereka melakukan apa pun untuk bersaing. Ironisnya, masing-masing berharap agar yang lain segera menghadap Bapa di surga. Keinginan itu dinyatakan secara terbuka kepada karyawan mereka, yang tentunya sangat terkejut karena si kembar adalah orang Kristen yang aktif bergereja.

Kita dapat belajar dari kisah yang menyedihkan ini. Apakah persaingan itu bersifat membangun atau merusak? Siapa yang patut dipersalahkan atas persaingan yang tidak sehat ini? Apabila sebuah persaingan menghasilkan pertumbuhan bisnis yang baik di kedua belah pihak, maka persaingan itu patut diteruskan. Namun, manakala persaingan itu didasari oleh keinginan untuk melihat kehancuran pihak lain, maka persaingan itu lebih baik dihentikan karena di dalamnya tidak ada kasih dan belas kasihan. “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia” (Imamat 19:17). Inilah pesan Musa kepada bangsa Israel, termasuk kita: jangan membenci saudara kita. Kebencian berakar dari persaingan, iri hati, dan rasa tidak suka apabila saudara kita lebih maju daripada kita. Sejarah Israel dimulai dari anak-anak Yakub yang sangat membenci Yusuf, adik mereka sendiri. Di situlah tumbuh benih persaingan, rasa iri karena Yusuf lebih disayang oleh sang ayah. Itulah sebabnya Musa menganjurkan agar kita tidak menyuburkan rasa benci, tetapi belajar menegur sesame yang melakukan kesalahan. Ciptakan persaingan yang konstruktif, bukan destruktif. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, peringatkan aku agar tidak terjebak dalam persaingan yang tidak sehat dan destruktif. Ajarlah aku untuk memandang persaingan sebagai sarana untuk mengembangkan diri.
  2. Tuhan ampunilah kami sebagai gereja-Mu karena tanpa sadar kami kerap menciptakan beragam persaingan di dalam pelayanan internal, saling menonjolkan diri sebagai orang yang paling berjasa dalam pelayanan, juga persaingan eksternal—antargereja. Tuhan, ajarlah kami untuk saling melengkapi dan membangun dengan penuh kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *