Renungan Berjalan bersama Tuhan

Dendam

Dendam

Yunus 4:1-11

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Setiap orang mempunyai pengalaman hidup yang unik. Tidak ada seorang pun yang mempunyai pengalaman hidup yang sama. Ketika air sungai terus mengalir, maka dasar sungai akan terus berubah. Demikian pula dengan pengalaman hidup, yang selalu bervariasi, dari yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, terus silih berganti dan terus berubah. Ada orang yang sangat peka, tetapi ada pula yang tidak berperasaan sehingga ia bisa mengatakan apa saja yang sangat menyakitkan hati namun ia sendiri tidak pernah merasa sakit hati! Ada orang yang selalu menyakiti hati orang lain namun tidak pernah merasa bersalah, tetapi ada pula orang yang sangat hati-hati dalam berbicara karena takut menyakiti hati orang lain.

Tuhan mengaruniakan keunikan pada perasaan. Perasaan itu bisa acuh tak acuh, tetapi bisa juga sensitive sampai kita menjadi orang yang stres bahkan bisa depresi karena gejolak perasaan yang tidak terbendung. Perasaan yang terluka membuahkan perasaan dendam. Ketika dendam berdiam di dalam hati, maka yang ada hanyalah perasaan benci dan sikap yang terus ingin membalas. Tidak ada belas kasihan, apalagi memberikan pertolongan. Pikirannya akan selalu berusaha untuk menghancurkan atau setidaknya membiarkan mereka dalam penderitaan atau kesulitan. Si pendendam itu malah berharap agar mereka mengalami kecelakaan dan Tuhan menghukum mereka!

Pengalaman pahit itu juga dialami oleh Yunus. Tidak dijelaskan apa yang menyebabkan Yunus mempunyai dendam atau rasa sakit hati terhadap penduduk Niniwe. Bisa jadi Ninewe adalah bangsa yang pernah menjajah dengan kejam atau selalu merugikan Israel sehingga Israel mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Mungkin juga akibat masalah pribadi Yunus. Pengalaman yang tidak enak, yang terjadi di dalam diri Yunus bisa jadi karena kesalahan orang-orang Ninewe, tetapi bisa juga karena kepekaan Yunus sebagai orang yang sangat perasa. Sikap-sikap itu yang pada akhirnya membuat Yunus mendendam terhadap orang-orang Niniwe. Ia tidak mau diutus Tuhan untuk membawa berita keselamatan dari Allah ke kota itu. Yunus merasa lebih baik menghindar dan pergi ke tempat lain. Ia merasa lebih aman ke tempat lain daripada melayani di Niniwe.

Namun, rencana Tuhan tetap berjalan dan tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun! Tuhan menghajar Yunus dengan pengalaman yang sangat mengerikan! Akhirnya, Yunus harus pergi ke Niniwe dan berkhotbah di sana. Banyak orang yang bertobat dan percaya kepada Allah. “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia” (Yunus 4:1). Bukankah Yunus ini tampak aneh? Orang Niniwe orang bertobat, hidup mereka diperbarui, dan mereka kembali ke jalan yang benar dan hidup takut akan Tuhan. Namun, anehnya Yunus justru tidak bahagia atau bersukacita. Ia malah berdukacita dan marah melihat pertobatan mereka. Tuhan menegur Yunus dan mengingatkan bahwa dendam itu harus dibereskan dengan pengampunan dan kasih. Dendam membuahkan kejahatan yang lebih keji karena membiarkan manusia berada dalam kebinasaan. Oleh karena itu, Tuhan menyatakan anugerah-Nya kepada orang yang dikasihi-Nya. Dia menyelamatkan mereka dengan anugerah pengampunan-Nya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *