Renungan Berjalan bersama Tuhan

Doa Eka Darmaputera

Doa Eka Darmaputera

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Filipi 1:12-26

Doa adalah kekuatan yang paling utama dalam menghadapi setiap pergumulan yang berat. Doa memiliki kuasa yang besar dalam menjalani beban hidup sehingga memiliki kuasa kemenangan! Beberapa waktu yang lalu, para pendeta dan jemaat GKI Jawa Barat mengadakan Persekutuan Doa di GKI Panglima Polim, khususnya untuk mendoakan Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D. yang saat itu bergumul dengan penyakit kanker di levernya. Dalam Persekutuan Doa tersebut, beliau sempat menulis sepucuk surat “Permohonan Doa”, dan biarlah ini juga menjadi doa syafaat kita dan pelajaran sangat penting yang dapat kita petik dari seorang hamba-Nya yang setia. Inilah surat Eka Darmaputra:

Rekan-rekan sepelayanan, kawan-kawan seperjuangan, dan saudara-saudaraku seiman, yang saya kasihi dengan segenap hati!

Terpujilah Tuhan, yang telah berkenan mengantarkan saya melalui perjuangan panjang, kurang lebih 21 tahun lamanya! Selama 21 tahun itu, saya akui, saya tidaklah seperkasa singa, sekuat gajah, atau setegar baja. Saya adalah darah dan daging, manusia biasa-biasa saja, yang sekadar berusaha untuk setia kepada Tuhannya.

Tidak jarang, 21 tahun itu saya lalui dengan amarah, cemas, dan rasa terluka di jiwa. Namun demikian, pada saat yang sama, tahun-tahun tersebut juga adalah tahun-tahun yang amat kaya dan limpah dengan rahmat dan berkat.  

Saya disadarkan, betapa Tuhan yang saya ikuti tak selalu menyenangkan, tapi tak pernah Ia mengecewakan.

Mata rohani saya pun dicelikkan untuk melihat betapa saya adalah orang yang sangat diberkati. Tuhan mengaruniai saya dengan kekayaan yang luar biasa berupa istri, anak, dan menantu yang maknanya tak tergantikan oleh apa pun juga.

Dan saya ditakjubkan serta amat diteguhkan oleh ribuan sahabat yang begitu peduli, memperhatikan dan menyayangi saya. Mereka terdiri dari segala bangsa, tinggal di pelbagai belahan dunia, penganut beraneka rupa agama, dan berasal dari beragam usia serta kedudukan sosial: dari seorang presiden Republik Jerman sampai seorang tukang parkir jalanan.

Kesimpulannya: Apa lagi yang masih kurang? Apa lagi yang pantas saya tuntut?

Saudara-saudara sekalian, kini saya telah hampir tiba di penghujung jalan, berada di etape-etape akhir perjalanan hidup saya. Para dokter telah menyatakan bahwa tak ada lagi tindakan medis yang signifikan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi kesehatan saya, kecuali mungkin transplantasi hati.

Dalam situasi seperti itu, ketika tangan dan upaya manusia tak lagi mampu melakukan apa-apa yang bermakna, kita bersyukur karena bagi orang beriman selalu ada yang amat berarti yang dapat dilakukan.

Dan itulah yang kita lakukan malam ini: BERDOA. Kita menyatakan penyerahan diri kita seraya mempersilakan tangan-Nya bertindak dan kehendak-Nya berlaku dengan leluasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *