Renungan Berjalan bersama Tuhan

Saksi Mata

Saksi Mata

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Lukas 24:1-12

Sebuah pengadilan, baik yang dilakukan oleh lembaga pengadilan ataupun pengadilan yang bersifat sangat terbuka—seperti pengadilan yang dapat disaksikan oleh rakyat atau orang banyak—tetap membutuhkan saksi. Saksi sangat penting untuk menyatakan apakah sebuah perkara benar atau salah dan untuk menjadi kunci dalam menyelesaikan suatu perkara. Oleh karena itu, saksi harus lebih dari satu orang agar keputusan dapat dinyatakan sah. Semakin banyak jumlah orang yang memberi kesaksian, semakin objektif perkara itu diputuskan. Semua perkara yang dibawa ke pengadilan pasti membutuhkan saksi, entah itu perkara biasa, kasus kemanusiaan, ataupun hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia seperti peristiwa supranatural. Saksi memberikan bukti kebenaran sehingga masyarakat dapat percaya dengan mantap bahwa peristiwa yang disaksikannya itu benar-benar terjadi, bukan dongeng atau karangan belaka.

Peristiwa sangat penting setelah Jumat Agung—matinya Tuhan Yesus di atas kayu salib—adalah kebangkitan-Nya dari kubur. Namun, kejadian itu juga memerlukan saksi! Dan Tuhan memang memakai cara itu untuk membuat manusia percaya kepada-Nya. Alkitab mengatakan bahwa saksi-saksi bisa beraneka ragam bentuknya. Tuhan bisa memakai semua bagian alam semesta ini untuk menyaksikan karya-Nya yang agung dan mulia. Dalam peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus, maka saksi pertama-Nya adalah sebuah batu. Lukas mencatat, “Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu” (Lukas 24:1-2). Yang disebut sebagai “mereka” di ayat itu adalah Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lainnya yang bersama-sama dengan mereka memberitahukan fakta itu kepada rasul-rasul (Lukas 24:10). Suatu kejutan yang sangat besar di pagi buta! Mereka tidak mungkin salah masuk ke kubur Tuhan Yesus karena tempat itu khusus disediakan bagi-Nya. Kubur itu sangat baik dan berada dalam sebuah gua. Letaknya pun khusus, tidak bersama-sama dengan banyak orang lainnya. Oleh karena itu, mereka pasti tidak keliru. Lagi pula kubur itu ditutup dengan batu besar dan dibubuhi meterai kerajaan Romawi. Tidak ada yang berani membuka meterai itu. Namun pagi itu, mereka diperlihatkan pada bukti nyata bahwa batu yang merupakan benda mati itu menjadi saksi hidup! Batu itu sudah terguling, meterainya sudah terlepas! Batu itu menjadi saksi, dan dilihat oleh orang banyak, bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Jika Tuhan bisa memakai benda mati menjadi saksi, bagaimana dengan kita? Apakah yang dapat kita lakukan untuk memberi kesaksian tentang Dia? Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk menyaksikan-Mu di dalam seluruh hidupku, baik di rumah, di pekerjaan, di pelayanan, dan di tengah masyarakat.
  2. Tuhan, jangan biarkan aku menjadi batu sandungan bagi orang lain sehingga mereka tidak mau mengenal Engkau, yang telah menjadi Tuhan dan Juru Selamatku yang sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *