Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hidup yang Dinamis

Hidup yang Dinamis

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Ibrani 12:1-17

Hidup yang kita jalani, entah kita sadari atau tidak, sebenarnya berada dalam suatu dinamika untuk terus berkarya. Yang dimaksudkan dengan “hidup yang dinamis” adalah sesuatu yang bergerak, berkembang, dan terus menjadi besar. Hidup yang dinamis tidak tinggal diam, tetapi terus bersemangat menghadapi tantangan-tantangan yang muncul. Segala hambatan yang datang menjadi sarana untuk mematangkan diri. Kesulitan-kesulitan yang ada membuat diri semakin terampil dalam mengatasi kesulitan-kesulitan selanjutnya.

Jika kedinamisan ini dikaitkan dengan hidup, maka kita dapat melihat contoh konkret dari pertumbuhan seorang bayi. Begitu ia lahir, ia akan terus melakukan gerakan-gerakan yang tidak pernah berhenti, kecuali saat ia tertidur lelap. Entah ia mampu mengerjakan atau tidak, yang jelas ia tetap tidak mau diam. Pada saat ia tidak mampu melakukan apa pun, ia menangis. Menangis menjadi alat komunikasi bagi dirinya kepada orang yang lebih dewasa, khususnya sang ibu. Hal itu merupakan pertanda bahwa ia lapar atau haus, dan membutuhkan air susu; mungkin juga ia lelah atau ingin dipeluk, digendong, dan ditimang-timang. Ketika ia belajar berjalan, ia berkali-kali jatuh bangun namun tidak menyerah, kecewa, atau putus asa. Akhirnya, ia bukan hanya bisa berjalan dengan baik, melainkan bahkan bisa berlari dengan cepat. Ia mengubah kegagalan menjadi kemenangan, dan menjalani tantangan sebagai gairah hidup. Itulah yang dimaksudkan dengan pengertian “dinamis”.

 

Lukas mencatat apa yang dialami oleh Tuhan Yesus menjelang kesengsaraan-Nya di atas kayu salib. Hukuman itu akan dijatuhkan di Yerusalem. Sebenarnya, ketika itu Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya dapat meninggalkan Yerusalem dan menyingkir ke tempat yang jauh. Mereka bisa “melarikan diri”. Namun, Dia tidak melakukannya. “Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Lukas 9:51). Padahal di tempat itu kayu salib telah menanti-Nya. Namun, Yesus tetap bergerak menuju ke arah sana, Dia tidak mau berhenti di tempat yang aman-aman saja. Bagi Tuhan Yesus, kayu salib merupakan bagian hidup yang harus dijalani-Nya sekalipun pahit. Dia tidak kecewa, putus asa, atau menyesalinya. Semua dilakukan-Nya dengan setia. Dan memang akhirnya kita dapat melihat betapa Dia mengalami kemenangan yang luar biasa.

 

Ketika seseorang mengalami masalah, atau dapat dikatakan musibah, apa yang dikatakannya? “Saya tidak akan lari dari musibah ini walaupun itu menyakitkan. Apakah saya hanya mau menerima hal-hal yang enak saja dari Tuhan dan tidak mau yang pahit? Saya percaya semuanya ini berada di dalam  rencana-Nya yang indah. Di depan sana ada kemenangan yang gemilang jika saya tetap setia kepada-Nya. Hidup harus dijalani dengan sikap dinamis.” Kesaksian hidup Tuhan Yesus seharusnya menjadi pola hidup kita sebagai anak-anak-Nya.   Marilah kita menjalani hidup ini dengan kedinamisan kita masing-masing. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *