Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pemimpin yang Peka

Pemimpin yang Peka

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Roma 12:9-21

Seorang pria pergi ke sebuah  plaza dan duduk di sebuah kafe. Sambil meneguk kopi dan menikmati makanan kecil, matanya melihat ke sana kemari sembari mengamati orang-orang yang lalu-lalang. Banyak orang yang lewat di depannya karena letak kafe itu sangat strategis, persis di tengah plaza. Ia mengamati wajah orang-orang itu dan menafsirkan pengamatannya. Apa yang sedang mereka rasakan atau pergumulkan? Apa yang ada di dalam benak mereka dan yang terpancar melalui wajah mereka? Gejolak emosi apakah yang sedang mereka alami saat itu?

Sangat menarik ketika ia mengamatinya dengan cermat. Ada orang-orang yang berwajah sangat ceria, baik orangtua bersama keluarganya, para remaja, atau muda mudi yang sedang berpacaran. Ada orang lanjut usia yang berjalan tertatih-tatih karena sudah sangat lelah dan wajahnya pun tampak begitu loyo. Ada yang berwajah cemberut dan merah mukanya, mungkin karena baru marah-marah dengan istri atau suaminya. Ada yang berjalan sambil mengomel karena jengkel kepada tukang parkir yang dianggap tidak becus mengatur mobilnya. Ada juga yang bersikap tenang dan berjalan santai seolah-olah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Dan masih banyak lagi model raut wajah yang bisa dilihat. Mungkin kalau dilukiskan, akan tampak mimik-mimik wajah yang sangat lucu.

 

Sebenarnya, apakah tujuan pria ini menghabiskan waktu berjam-jam di kafe tersebut? Ternyata ia sedang melatih kepekaan hatinya untuk melihat sejauh mana hatinya peka  terhadap orang-orang di sekitarnya. Katanya, “Jika saya tidak melatihnya, saya tidak akan pernah memandang orang lain, saya hanya akan menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhan saya, memperhatikan saya, atau mengasihi saya! Sekalipun saya pandai berdiplomasi dan mengambil hati orang, hal itu semata-mata hanya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, untuk meraih apa yang menguntungkan bagi diri saya. Namun, saya tidak pernah memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan! Saya tidak pernah menggumulkan apa yang mereka gumulkan!” Itulah juga nasihat yang diberikan oleh Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Bagaimana mungkin kita bisa bersukacita dengan orang bersukacita dan menangis dengan orang menangis bila kita tidak pernah duduk dengan tenang dan berusaha memikirkan orang lain? Seorang pemimpin dan pelayan dipanggil untuk bersikap peka terhadap pergumulan orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pelayan perlu terus-menerus melatih diri untuk peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya, karena hal itu adalah bagian dari kepemimpinannya. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Tuhan, berilah kami kepekaan hati untuk bisa memperhatikan orang lain, mulai dari anggota keluarga sendiri, teman dalam pekerjaan dan pelayanan, sampai masyarakat di sekitar kami.
  2. Tuhan, pimpinlah kehidupan berbangsa dan bernegara kami dalam mengembangkan kerukunan antarumat beragama supaya benar-benar mempunyai tanggung jawab bersama dalam meningkatkan hubungan sosial yang baik, penuh kasih, dan saling tolong-menolong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *