Khotbah Perjanjian Lama

How Do You Build Your Life?

Oleh: Pdt. David Kosasih

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

Daniel 6:11

Kota Pisa di Italia menjadi terkenal ke seluruh dunia karena satu bangunan uniknya, Menara pisa yang miring. Menara yang dibangun ini bertujuan menjadi Menara lonceng bagi sebuah katedral di sebuah taman kota. Pembangunannya membutuhkan waktu 200 tahun, 1173 – 1350. Saat mulai membangun sampai lantai 3, menara itu mulai kelihatan miring. Makin lama, kemiringannya makin bertambah. Setelah diselidiki ternyata ada masalah di bagian fondasi bangunan. Tanah di mana menara itu dibangun ternyata tanah yang labil sehingga tidak kuat benar menahan banhan bangunan menara yang berat. Segala daya upaya terus dilakukan untuk mengoreksi bangunan menara tersebut, tetapi tidak membuahkan hasil yang maksimal.

Awal minggu lalu, saya mendengar di radio sebuah kutipan yang menyinggung mengenai bangunan menara Pisa ini. Kutipannya demikian: “Good fascade but bad foundation” artinya: “Dari luar tampak baik, tetapi fondasinya buruk”. Wah perkataan itu nancep bener di kepala saya.

Ini bukan hanya bicara tentang sebuah bangunan menara yang miring, tetapi bisa juga saya alamatkan kepada hidup kita. Saya tiba – tiba tertegun sewaktu mengubah kalimatnya menjadi: “Apakah hidup saya tampak baik di luarnya saja? Bagaimana dengan hidup saya yang paling dalam? Apakah saya memiliki fondasi kehidupan yang kokoh?” Saya tidak tahu, apakah pertanyaan itu juga menggelitik dan berbicara kepada setiap kita, tetapi buat saya hari ini: IYA!

Pertanyaan mendasarnya: bagaimana kita membangun kehidupan kita. yang jelas seperti sebuah bangunan rumah, yang tidak jadi dalam waktu sekejap saja. Pembangunannya melalui proses waktu, setahap demi setahap, satu batu di atas batu yang lainnya. Hidup dibangun dari satu “Batu kebiasaan” sehingga menjadi karakter yang melekat dan menjadi nilai hidup yang mewarnai.

Tokoh Daniel bukanlah tokoh yang asing buat kita. Kalau ingat Daniel, maka kita akan ingat Daniel di goa singa (sampai ada lagu anak-anak untuk hal itu). Mari kita membayangkan situasi saat itu yang dihadapi oleh Daniel. Ia dijebloskan ke dalam sebuah goa yang berisi singa-singa yang ganas. Secara naluri, hewan itu akan segera memangsa siapapun yang dilemparkan ke dalam gua tersebut. Akibatnya: kematian mengerikan karena tubuhnya akan dicabik-cabik oleh gigi singa yang tajam itu.

Tetapi apa yang menyebabkan hukuman itu harus dijatuhkan kepada Daniel? Pangkalnya adalah sebuah perintah yang dikeluarkan oleh raja Darius (penguasa Media – Persia) hari itu. Ia memberi perintah: selama 30 hari, semua orang di bawah kekuasaan kerajaan dilarang menyampaikan permohonan kepada dewa atau manusia manapun kecuali kepada raja (dalam hal doa). Ketentuan seperti ini dalam hukum kerajaan tidak boleh dicabut, bahkan oleh raja sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *