Renungan Berjalan bersama Tuhan

Itu Urusanmu Sendiri!

Itu Urusanmu Sendiri!

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 27:1-10

Malam di Taman Getsemani itu bukan saja menggentarkan murid-murid Tuhan Yesus yang setia, tetapi juga Yudas yang menjadi pengkhianat. Ia berkata, “‘Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.’ Tetapi jawab mereka: ‘Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!’” (Matius 27:4). Ada beberapa hal yang sangat menarik untuk kita pelajari dari apa yang dikatakan oleh Yudas.

Pertama, Yudas berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Ungkapan ini sangat aneh. Apakah ia tidak tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, bahwa Dia adalah kebenaran dan seluruh hidup-Nya benar? Omong kosong kalau ia tidak tahu! Tetapi bisa juga kalimat itu merupakan kalimat penyesalan. Penyesalan pada umumnya terjadi setelah melakukan pelanggaran terhadap kebenaran, atau setelah menyadari bahwa dirinya telah bertindak tidak benar.

Namun, penyesalan sering kali tidak disertai dengan pertobatan yang membawa pada perubahan hidup. Penyesalan yang hanya menyadari bahwa apa yang dilakukan tidak benar namun belum sampai pada perenungan diri tentang mengapa ia melakukan hal-hal yang tidak benar. Bila seseorang melakukan perenungan yang benar, ia bukan hanya akan menyesal, melainkan juga bertobat. Oleh karena itu, orang yang menyesal pada umumnya berusaha melemparkan kesalahan kepada orang lain, atau mencoba menyerahkan tanggung jawab kepada pihak lain.

 

Kedua, hal itulah yang dilakukan oleh Yudas. Ia berusaha melemparkan penyesalannya kepada para pemimpin Yahudi yang telah membayarnya untuk menangkap Tuhan Yesus. Dilemparkan ke pihak lain agar hatinya tak lagi merasa bersalah. Orang yang menyesal selalu mencari jalan keluar supaya hati nuraninya tidak terus-menerus menuduhnya. Kalau kesalahan itu ada di pihak lain, maka ia akan merasa lega. Jika kasus penangkapan Tuhan Yesus itu merupakan kesalahan para tua-tua Yahudi, maka Yudas akan merasa lebih tenang menjalani hidupnya. Namun, dengan tegas mereka berkata, “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” Tentu mereka juga tidak mau direpoti dengan suara hati nurani mereka. Mungkin juga mereka tidak merasa bersalah karena Tuhan Yesus dianggap musuh yang harus disingkirkan. Yudas “terpancing” oleh politik mereka yang ingin menyingkirkan Tuhan Yesus. Masalah uang merupakan kelemahan Yudas sehingga ia bersedia menjadi pion skenario kotor mereka. Namun, urusan itu memang bukan urusan orang lain, melainkan tanggung jawab Yudas sendiri.

Di sini kita dapat belajar, bahwa penyesalan tidak cukup kalau tanpa pertobatan, dan segala tanggung jawab tidak bisa dialihkan kepada orang lain. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Memohonlah kekuatan dari Tuhan untuk mengalami pertobatan yang sesungguhnya, bukan hanya merasa menyesal. Kita tidak pernah terlepas dari kesalahan! Karena itu kita perlu terus memeriksa diri di hadapan Tuhan dan mengakui segala dosa kita, lalu bertobat.
  2. Memohonlah pimpinan Tuhan agar terus menolong kita untuk bangkit dari kegagalan hidup. Kegagalan diizinkan terjadi di dalam hidup kita agar kehidupan rohani kita semakin dewasa dan relasi kita dengan sesama pun semakin bijaksana.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *