Renungan Berjalan bersama Tuhan

Salam Rabi

Salam Rabi

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 26:47-56

Malam di Taman Getsemani itu memang mencatat banyak kejadian yang janggal, bahkan aneh dan sangat kontradiktif. Semua murid mengalami kelelahan, tertidur pulas, padahal di depan mereka ada bahaya sangat besar yang mengancam jiwa Tuhan Yesus. Akhirnya, Yesus membangunkan mereka dan  mengajak mereka berjaga-jaga karena orang-orang yang akan menangkap-Nya sudah dekat. Orang-orang itu tidak usah mencari-cari-Nya karena Yudas Iskariot akan menunjukkan jalannya. Ia berjalan di depan dan memimpin pasukan yang akan menangkap Yesus. Yudas juga sudah hafal tempatnya karena Yesus kerap mengajaknya berdoa di sana. Kedatangan Yudas sudah diketahui oleh Yesus sehingga Dia mengajak murid-murid-Nya untuk waspada, berjaga-jaga, dan siap menerima realitas yang akan menimpa Guru mereka.

Di kesunyian taman yang gelap pekat, udara sepoi-sepoi dengan bau daun-daun cemara yang menyengat, Tuhan Yesus berdiri menatap Yudas dan Yudas pun balik menatapnya. Lalu, dengan muka yang manis dan penuh senyum Yudas berkata, “Salam Rabi,” lalu mencium-Nya (Matius 26:48). Jika kita mencermati apa yang dilakukan oleh Yudas, apakah kita tidak jengkel, marah, dan ingin mencaci makinya? Jika kita diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya, kira-kira apa yang akan kita katakan? Bukankah ia benar-benar pengkhianat? Bukankah apa yang dilakukannya sungguh keterlaluan! Bayangkan, ia bertemu dengan Tuhan Yesus, lalu segera menyapa dengan kalimat “Salam Rabi”. Apa artinya “salam”? Bukankah salam berarti sejahtera, damai, dan rasa hormat? Salam adalah ucapan yang diberikan kepada orang lain karena semuanya dalam keadaan baik, penuh sukacita, dan harmonis. Arti yang tersirat di dalamnya adalah “Kita semua berada dalam keadaan sejahtera, penuh kedamaian: tidak ada konflik, tidak ada permusuhan, tidak ada kedengkian dan kebencian. Salam menandakan bahwa kita saling menghormati.”

 

Di sini kita bisa melihat bahwa manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, apalagi yang hidupnya diperhamba oleh dosa dan Iblis, dapat memelintir segala sesuatu yang benar. Hal yang baik bisa diputar menjadi sesuatu yang sangat jahat. Bukankah itu sangat kontradiktif? “Salam” yang berarti damai, bisa berubah menjadi permusuhan; yang seharusnya bermakna harmonis bisa berubah menjadi kebencian yang akhirnya membawa pada pembunuhan. Oleh karena itu, pemberian salam oleh orang-orang yang masih dikuasai dosa hanya bersifat basa-basi. “Salam” bisa menjadi petunjuk untuk menangkap, tanda kebencian, bukti pengkhianatan, dan sebagainya. Ingat, bukankah Iblis itu memang bapa pendusta? Dari awal mula Iblis memang sudah membohongi manusia dan memutarbalikkan kebenaran Tuhan. Marilah kita selalu waspada terhadap tipu muslihat Iblis. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Memohonlah kekuatan dan anugerah pemeliharaan Tuhan untuk tetap setia pada kebenaran Tuhan, hidup takut akan Dia, dan setia mengasihi sesama.
  2. Memohonlah kepekaan kepada Tuhan untuk mewaspadai semua pencobaan yang berusaha menghancurkan keutuhan relasi persaudaraan, baik di antara anggota keluarga, rekan sekerja, dan teman sepelayanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *