Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kedewasaan Rohani

Kedewasaan Rohani

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Korintus 3:1-9

Setiap orang pasti senang menjadi dewasa. Bahkan suka atau tidak semua harus menjalani ptorse tersebut. Tidak ada yang tetap kanak-kanak; semua manusia akan bertumbuh menjadi remaja, lalu pemuda, dewasa, dan kahirnya lanjut usia. Dari tubuh yang lemah sampai mempyai kekuatan yang luar biasa dan akhirnya menjadi lemah kembali pada usia lanjut. Demikian pula halnya dengan kehidupan rohani kita. Paulus menggambarkan orang yang beru pertama kali mengenal Kristus seperti bayi baru lahir yang hanya bisa minum air susu. Setelah makin dewasa, ia baru bisa menerima makanan yang keras (1 Korintus 3:1-9). Gambaran itu diberikan Paulus untuk menjelaskan bahwa kehidupan rohani juga harus semakin bertumbuh menjadi dewasa rohani.

Konteks tersebut berbicara tentang karakter seseorang sebagai ukuran dewasa rohani atau tidak. Jika ia masih suka iri hati dan berselisih dengan orang lain, ia sama seperti kanak-kanak yang belum dewasa. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengetahui ciri-ciri kedewasaan rohani seseorang. Salah satunya adalah dengan melihat kedewasaan emosionalnya.

Memang, “tahu” jauh lebih mudah daripada “mengubah”. Saya tahu bahwa saya pemarah, mau menang sendiri, tidak peduli dengan orang lain. Saya tahu, tetapi untuk mengubah semua itu tidak mudah! Paulus berkata, “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:3). Kita banyak tahu tentang hal-hal yang baik dan benar, tentang kasih dan perhatian, tentang bersikap sabar dan tenang, dan sebagainya, tetapi mempraktikkan semua itu ternyata sulit.

Orang yang dewasa secara emosional mampu mengakui dan menerima dengan sukacita kelebihan dan kekurangan dirinya, dan akhirnya mampu berelasi dengan orang lain dalam hubungan yang harmonis. Ia juga mampu menerima siapa saja, dengan latar belakang dan tingkat sosial apa pun, baik orang-orang yang pandai atau bodoh, yang maju atau yang terbelakang. Ia mampu berempati pada pergumulan dan masalah orang lain. Semua orang bisa menjadi sahabatnya dalam suasana saling menghargai dan memperhatikan. Jika hal ini terjadi pada kita, baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat, maka kita benar-benar akan menjalani hidup yang penuh dengan damai sejahtera. Namun, semua itu baru bisa terjadi jika kita sungguh-sungguh memiliki kedewasaan rohani. Roh Kudus akan terus-menerus menolong kita untuk dapat hidup dengan baik dan benar, dapat mengontrol emosi kita sehingga dengan cinta kasih, kesabaran, dan perhatian yang mendasari relasi kita dengan orang lain, kehidupan di dunia ini akan semakin harmonis. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk mampu mengasihi diriku sendiri dan juga mengasihi orang lain. Ajarlah aku untuk mengasihi orang lain seperti aku mengasihi diriku sendiri.
  2. Tuhan, jadikanlah diriku berkat bagi orang lain, khususnya dalam kehidupan berkeluarga, pelayanan, dan pekerjaanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *