Selama puluhan tahun di Babel, di tempat pembuangan, umat Allah Israel merasakan beratnya menantikan hari pembebasan mereka. Orang-orang saleh Yahudi itu merindukan untuk kembali ke tanah perjanjian dan duduk-duduk di bawah perkebunan anggur mereka; masuk bait Allah dengan sukacita.
Ada penderitaan batin yang mendalam di tanah pembuangan yang jauh dari Yerusalem, walau situasi sosial mereka tidak seburuk ketika dulu mereka di tanah Mesir. Mereka mengeluh: Tulang-tulang kami telah menjadi kering, pengharapan kami telah menjadi lenyap, kami sudah hilang (Yeh. 37:11). Demikian ratapan umat Tuhan di Babel. Mereka merasa lunglai dan tak kuat berdiri menantikan datangnya fajar penyelamatan. Mereka lemas secara rohani dan merasa tak lagi punya tulang untuk berdiri. Harapan mereka sudah pupus, identitas mereka telah hilang. Bait Allah dan Yerusalem yang menjadi kebanggaan mereka juga telah tiada. Pada hal itulah pusat kebanggaan mereka sebagai bangsa, baik di dalam iman maupun sebagai kerajaan yang berdaulat sebagai bangsa yang dikhususkan Tuhan.