Renungan

Lebih Cerdas daripada Keledai

Lebih Cerdas daripada Keledai

 

Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.

(Amsal 26:11)

 

Ada pepatah mengatakan, “Seekor keledai tak akan jatuh pada lubang yang sama sebanyak dua kali.” Pepatah ini hendak menegaskan bahwa binatang yang dianggap paling bodoh sekalipun bisa belajar dari pengalamannya sehingga ia tidak mengulangi kesalahannya. Bila binatang bisa demikian, apalagi manusia, bukan? Tentu manusia jauh lebih cerdas daripada binatang apa pun. Sayangnya, walaupun manusia itu cerdas, ia bisa saja keras kepala dan terus mengulang kesalahan yang sama.

 

“Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya” (Amsal 26:11).

 

Amsal ini menggambarkan perilaku orang bebal. Orang bebal adalah orang yang keras hati dan keras kepala dalam kesalahannya sehingga ia mengulangi kesalahan yang sama. Tidak mau berubah walaupun tahu dirinya salah. Orang bebal itu digambarkan seperti anjing yang kembali ke muntahnya. Bukankah hal yang menjijikan melihat anjing kembali untuk menjilati muntahnya? Demikian pula orang bebal yang mengulangi kesalahannya.

 

Tuhan memberikan kepada manusia hati dan pikiran. Hati untuk merasakan respons orang lain, pikiran untuk merenungkan ulang perkataan dan perbuatan. Selama hati dan pikiran terus terbuka terhadap masukan, maka kebebalan menjauh dari hidup kita.

 

Namun, ketika kita tidak mau mendengar dan memikirkan respons dari sekeliling kita, diam-diam kebebalan akan merasuk ke dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *