Renungan Berjalan bersama Tuhan

Pesan Ibu

Pesan Ibu

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Amsal 31:2-7

“Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku? Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja. Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras, jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas. Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya.” (Amsal 31:2-7)

Pesan selalu berkesan ketika pesan itu mengandung makna menuntun ke jalan kehidupan yang benar. Inilah pesan seorang ibu kepada anak yang dikasihinya, anak yang dikandungnya sendiri, anak yang diharapkan berhasil di masa depannya, anak yang dinazarkan. Anaknya telah berhasil, sukses dalam pekerjaan, mendapat jabatan yang tinggi, mempunyai kekuasaan yang besar, hidupnya dihormati banyak orang, mempunyai banyak ajudan dan pengawal. Anaknya sudah menjadi raja. Apa yang dipesankan oleh seorang ibu yang sudah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya?

Pertama, “Anakku, jangan berikan kekuatanmu pada perempuan.” Rupanya inilah nasihat yang pertama dan terutama dari seorang ibu yang mencintai keluarganya dalam Tuhan. “Jangan berikan kekuatanmu pada perempuan sundal atau pelacur karena mereka akan membuatmu berselingkuh! Perempuan-perempuan itulah yang membinasakan raja, yakni perempuan yang akan merusak seluruh hidupm, dan keluargamu menjadi berantakan dan binasa.

Nasihat kedua, “Tidak pantas kalau engkau menjadi peminum dan pemabuk! Sangat disayangkan jika engkau sudah mempunyai kedudukan, jabatan yang terhormat, dan disegani orang banyak, kemudian engkau minum sampai mabuk!” Sang ibu memberikan nasihatnya karena dampak dari mabuk: sang anak menjadi orang yang tidak sadar. Pada saat tidak sadar, ia akan lupa semuanya, baik jati diri, jabatan, kehormatan, kedudukan, dan lainnya. Pada saat lupa, sang anak sudah menjadi orang yang tidak berharga dan bernilai. Dampak kedua adalah menyalahgunakan jabatan, membuat yang benar menjadi salah, membengkokkan hak orang tertindas. Bukankah mereka seharusnya ditolong?

Dampak ketiga, sudah tidak lagi bertanggung jawab terhadap kehidupan sekarang. Ia menjadi orang yang lupa akan kemiskinannya dan kesusahannya! Ia juga melupakan tanggung jawab yang harus dikerjakannya. Maka dari itu, pesan sang ibu: biarlah minuman keras itu hanya untuk orang yang sudah menetapkan dirinya untuk binasa. Minuman keras bukan porsi untuk orang yang sehat, tetapi orang yang sakit dan akan binasa. Sangat keras kata-kata sang ibu, tetapi itu diberikan dari dalam hati yang penuh kasih luar biasa kepada anak-anaknya. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, terima kasih, ketika firman Tuhan mengingatkan bagaimana peran seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. Terima kasih, Tuhan untuk Mama yang mengasihi aku. Terima kasih, Tuhan untuk aku yang sudah menjadi seorang ibu. Berilah aku hati yang bijaksana dan senantiasa mengasihi anak-anakku.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja agar dapat memberikan pembinaan yang benar kepada semua anggota jemaat, khususnya tentang peranan seorang ibu dalam membesarkan anak-anak mereka, memberikan nasihat yang bernilai dan bermakna, yang menghantar semua anaknya mengarungi kehidupan masa depan mereka. Pimpinlah Komisi Dewasa bersama komunitasnya agar dapat saling membina untuk menjadi seorang ibu yang Tuhan perkenan. Berkatilah keluarga-keluarga Kristen supaya mereka dapat menjadi teladan dalam membesarkan keluarga mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *