Renungan Berjalan bersama Tuhan

Terbatasnya Pengetahuan

Terbatasnya Pengetahuan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Juga tidak kupelajari hikmat, sehingga tidak dapat kukenal Yang Mahakudus. Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” (Amsal 30:3-4)

Seorang anak kecil berjalan-jalan di pinggir pantai, lalu keluarlah ide dalam imajinasinya, “Bagaimana kalau aku dapat menguras air laut itu dengan timba ini? Aku ingin melihat seperti apakah dasar laut itu.” Lalu, anak itu menggali tanah di pinggir pantai itu dan mulai menimba air laut dari pagi sampai sore. Esok harinya ia melakukan hal itu kembali. Sampai pada hari kelima ia kelelahan dan melihat air laut itu semakin banyak dan mustahil dikuras. Ia baru sadar kalau lautan itu ternyata sangat luas, besar, panjang, lebar, dan dalam, sungguh tak terukur. Tidak mungkin lautan itu bisa dikuras oleh manusia.

Amsal mengatakan “juga tidak kupelajari hikmat ….” Dalam terjemahan lain dikatakan, “Aku tidak belajar hikmat ….” Yang berarti bahwa aku telah mempelajari banyak hal dalam ilmu pengetahuan, tetapi semuanya itu sia-sia kalau aku tidak dapat mengenal Yang Mahakudus. Terlampau besar kemahakuasaan-Nya sampai semua daya, kekuatan, dan pemikiranku tidak dapat menjangkau dan memahami Yang Mahakudus, yakni Allah semesta alam. Amsal menggambarkan bahwa Yang Mahakudus telah naik turun dari surga. Angin berada dalam genggaman-Nya, air berada dalam kuasa tangan-Nya, sampai ujung bumi berada dalam pengaturan-Nya.

Terlalu ajaib, besar, dan agung sehingga tak seorang pun mampu mempelajari Engkau. Pikiran manusia begitu kecil untuk memahami Engkau, Allah Yang Mahakudus. Maka dari itu, Amsal menyatakan bahwa ia sudah mempelajari banyak hal, tetapi tidak mampu menjangkau pengenalan kepada Allah Yang Mahakudus, bagaikan anak kecil yang ingin menimba dan menguras samudra, lautan yang luas untuk dimasukkan ke dalam lubang sumur yang dibuatnya. “Hanya Engkau yang tahu,” kata Amsal, yang artinya hanya Allah sendiri yang tahu siapa diri-Nya, apa pekerjaan dan rancangan-Nya yang agung dan mulia. Manusia hanya diminta untuk takut akan Tuhan, hidup menurut aturan-aturan yang dirancang-Nya. Hanya Yang Mahakudus yang menyatakan diri-Nya kepada manusia yang terbatas ini sehingga manusia bisa mengenal Dia. Anugerah itu dialami bagi orang yang mau percaya dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk dipimpin oleh Sang Hikmat! Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku bersyukur karena anugerah-Mu yang mengasihi aku sehingga aku mengenal Engkau. Aku bersyukur karena Engkau yang memberikan kemampuan kepadaku sehingga aku mampu belajar banyak hal yang memperlengkapi diriku. Aku bersyukur karena Engkau mengaruniakan hikmat kepadaku.
  2. Tuhan, kami sebagai gereja bersyukur karena anugerah keselamatan-Mu sehingga kami mengenal Engkau, Allah yang benar. Pimpinlah kami agar kami dapat menjadi garam dan terang dunia, sebagai gereja yang senantiasa dipanggil untuk menyatakan anugerah-Mu kepada semua orang. Pimpinlah pelayanan kami di Komisi Pekabaran Injil, Badan-Badan Misi yang terus memberitakan karya Allah yang menyelamatkan manusia, sekolah-sekolah dan universitas-universitas Kristen supaya kami mengajarkan ilmu pengetahuan seimbang dengan iman yang benar, yang menciptakan anak-anak Tuhan yang takut akan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *