Renungan Berjalan bersama Tuhan

Taklukkan dan Berkuasalah

Taklukkan dan Berkuasalah

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Kejadian 7:1-7

Kita mungkin ngeri ketika mendengar perintah, “Taklukkan dan berkuasalah.” Sekalipun terdengar tidak enak di telinga, entah tanpa sengaja atau secara tidak langsung manusia kerap terbiasa melakukan hal itu, bahkan dengan cara yang kejam. Bukankah kita sering menemui orang yang memaki maki, mengolok-olok dengan kata-kata yang tidak senonoh, kotor, dan menyakitkan? Bukankah itu bentuk kekejaman? Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena ada tingkatan-tingkatan status dalam hubungan antarsesama. Ada pemimpin dan ada bawahan; ada tuan, nyonya, dan pembantu rumah tangga; ada bos dan ada karyawan. Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga, ada suami dan ada istri. Ada orang yang lebih intelektual dan ada yang bodoh dan sederhana sehingga ketika diajak bicara tidak nyambung. Ada orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu dan ada yang memiliki kelemahan-kelemahan tertentu di dalam dirinya. Semua itu membuat antara orang yang satu dengan orang yang lain saling merendahkan. Yang lebih tinggi merasa lebih mampu dari yang lemah. Bahasa yang dipakai selalu merendahkan, menghina, dan menyakitkan. Terjadilah kehidupan yang saling menaklukkan dan menguasai. Orang yang satu lebih berkuasa daripada yang lain dan itu dilakukan setiap hari, entah disadari atau tidak, sehingga orang yang mempunyai kelebihan merasa menjadi “raja” dan orang yang memiliki kelemahan semakin merasa tertindas dan stres.

Apa yang dikatakan Alkitab ketika manusia pertama kali hadir di dalam dunia ini? Kata-kata itulah yang dipakai Allah untuk manusia, “Taklukkanlah itu, berkuasalah.” Namun, apa dan siapa yang harus ditaklukkan dan dikuasai oleh manusia? Firman Tuhan berbicara kepada Adam dan Hawa, “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28). Ternyata manusia dipanggil untuk menaklukkan bumi dan berkuasa atas segala binatang yang ada, bukan untuk menaklukkan dan menguasai sesama manusia. Tidak ada satu ayat pun di dalam Alkitab yang meminta untuk itu!

Jika demikian, setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ternyata kehidupan untuk menaklukkan dan berkuasa itu sudah mengalami pergeseran makna! Manusia tak lagi menaklukkan bumi dan menguasai binatang, melainkan menaklukkan dan menguasai sesamanya sendiri. Dan lebih parah lagi, manusia sekarang ini sudah dikuasai oleh bumi, oleh alam, dan oleh materi, bahkan manusia sudah diperbudak! Sedangkan relasi antarmanusia yang seharusnya saling mengasihi sudah berganti dengan saling menaklukkan dan saling menguasai. Bukankah ini sesuatu yang mengerikan? Bukankah ada kita pernah mendengar pepatah “homo homini lupus” (manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia yang lainnya)? Marilah kita kembali menjadi seperti manusia pertama yang diciptakan Tuhan bila hidup kita ingin diberkati oleh Tuhan. Taklukkanlah alam ini dan berkuasalah atas materi yang ada. Kasihilah Tuhan Allah kita melebihi segalanya dan kasihilah sesama kita seperti diri kita sendiri. Dari sanalah berkat-Nya akan mengalir. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *