Renungan Berjalan bersama Tuhan

Yang Lembut dan yang Pedas

Yang Lembut dan yang Pedas

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1)

Pernahkah kita memikirkan, “Mengapa sering kita jumpai orang-orang yang bekerja keras di tempat komunitas yang keras, maka komunikasinya juga ikut keras atau cenderung kasar? Ini berarti, komunikasi sangat dipengaruhi oleh situasi, kondisi, dan lingkungan di mana kita berada. Sadar atau tidak, dalam berkomunikasi, kita bisa larut dan hanyut dalam bahasa, tutur kata, sikap yang kasar dan keras baik saat bertelepon atau melalui tulisan sms, bbm, chatting. Jelas sekali bahwa lingkungan memiliki mempunyai pengaruh yang besar dalam kita berkomunikasi dengan orang lain.

Amsal mengingatkan kita tentang bagaimana kita berkomunikasi dengan baik dan sehat, komunikasi yang membangun dan menguatkan. Amsal mengatakan, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman.” Berarti situasi dan kondisi yang sedang diungkapkan oleh Amsal adalah dalam keadaan tegang, emosional, kemarahan, karena sedang ada dalam “kegeraman”. Jika kita berada dalam situasi dan kondisi seperti itu, pola komunikasi yang harus dipakai adalah perkataan yang lemah lembut.

Lemah lembut di sini bukan berarti diucapkan dengan kata-kata yang pelan, atau sepotong demi sepotong, bukan! Lemah lembut mempunyai arti yang positif, yang membangun dan menguatkan; bukan melecehkan atau merendahkan orang lain, tidak menghina atau menyindir, dan juga bukan kata-kata yang menyakitkan hati. Kata-kata yang lemah lembut, akan memberikan pengertian yang baru, hikmat, dan pemikiran yang akan memberikan jalan keluar yang baik. Kata-kata yang demikian akan meredakan kegeraman. Namun sebaliknya, perkataan yang pedas hanya akan mengakibatkan orang lain marah.

Kata-kata yang pedas adalah kata-kata yang tidak memberikan penghargaan kepada orang lain, cenderung menghina, melecehkan, dan menyakitkan. Persoalan apa pun bisa terjadi, bahkan bisa emosional. Namun semua perkara dapat terselesaikan jika dimulai melalui cara komunikasi kita yang baik: cara komunikasi baik verbal maupun nonverbal, yang dikatakan atau yang tertulis. Biarlah kata-kata kita lemah lembut, memberikan semangat dan pengertian yang membangun dengan kasih-Nya. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tidaklah mudah bagiku belajar berkata-kata dengan lemah lembut, karena selain karakter yang tidak menunjang, lingkungan membuatku sulit untuk bersabar. Tidak heran kalau kata-kata pedas lebih sering terungkap daripada kata-kata yang lemah lembut. Tolonglah aku untuk belajar mengenal lingkunganku dengan baik, sehingga aku mampu berkomunikasi dengan bahasa yang lemah lembut.
  2. Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja agar mampu menghadirkan diri dalam komunikasi yang lemah lembut, bukan dengan bahasa yang pedas dan akhirnya justru menjadi batu sandungan. Biarlah kehadiran gereja mampu membawa komunikasi yang menyejukkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *