Pegawai istana ini ingin supaya Tuhan Yesus datang ke rumahnya (Yoh 4:49) untuk menjamah, memegang atau melakukan sesuatu di sana supaya anaknya bisa sembuh. Sikap yang sangat kontras dengan apa yang digambarkan dalam Mat 8 dan Luk 7 ketika perwira itu berkata bahwa cukup Tuhan berfirman maka pasti akan jadi. Kehendak pegawai istana ini adalah bahwa kalau memang Tuhan Yesus mau menyembuhkan, maka Dia harus datang ke rumahnya. Bahkan dia juga beranggapan bahwa kalau Tuhan tidak datang dan anaknya mati maka habislah harapannya. Tuhan harus datang ke rumahnya supaya anaknya sembuh. Kesembuhan seharusnya terjadi menurut skenarionya. Kehendaknya belum takluk. Tetapi ketika Tuhan Yesus berkata: “Pergilah, anakmu hidup” (Yoh 4:50), maka alkitab mencatat sebuah kalimat yang sangat indah, yaitu “orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya lalu dia pergi.” Inilah yang dimaksud Paulus bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rm 10:17). Ketika Kristus berfirman “pergilah anakmu hidup,” maka Firman Kristus ini menimbulkann iman yang menaklukkan kehendaknya, lalu dia pergi. Kalau pegawai istana ini belum ditaklukan kehendaknya oleh iman, maka mungkin sekali dia akan merengek terus, menarik tangan Tuhan Yesus, bahkan mungkin menyembah Dia mohon supaya datang ke rumahnya. Karena itulah yang menjadi imannya (tetapi iman yang salah), yaitu dia percaya bahwa Tuhan Yesus akan menyembuhkan akan tetapi harus datang ke rumahnya.
Pegawai Istana: Iman vs Rasio, Emosi dan Kehendak
January 20, 2022