Kalau kepada semua orang Kristen ditanya apakah mereka percaya (beriman/mengimani) bahwa Tuhan Yesus mampu menyembuhkan kanker atau sakit terminal yang dideritanya, atau apakah Tuhan mampu membangkitkan orang yang dikasihinya yang telah mati, maka hampir dapat dipastikan semua orang Kristen akan menjawab ya tanpa keraguan sedikitpun. Tetapi apakah iman yang seperti ini (yang baru menaklukkan rasio) sudah cukup di mata Allah? Ternyata tidak. Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa iman yang baru menaklukkan rasio (yang dimiliki pegawai istana saat itu) sebenarnya belum merupakan iman yang dimaksudkan oleh Allah. Alkitab mengatakan bahwa iman akan memimpin kepada iman yang lain (Rm 1:17). Perumpamaan benih yang jatuh di tempat yang berbeda-beda adalah gambaran yang jelas bahwa benih itu harus tumbuh dengan seharusnya (Mat 13:1-23). Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengecam pegawai istana itu sebagai orang yang tidak percaya (Yoh 4:48). Dengan sangat tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa kalau pegawai itu tidak melihat mujizat, maka dia tidak percaya. Apa maksud Tuhan Yesus? Perkataan ini sangat menarik karena seringkali orang Kristen berpikir bahwa kalau dia percaya dengan rasionya maka itu berarti dia sudah beriman, sudah tergolong orang percaya. Ternyata tidak demikian. Allah menuntut lebih dari sekedar penaklukan rasio dari orang percaya sehingga layak disebut orang beriman, karena rasio baru merupakan salah satu komponen dari orang tersebut.
Pegawai Istana: Iman vs Rasio, Emosi dan Kehendak
January 20, 2022