Dari catatan Yudas, tidak ada indikasi bahwa Henokh hidup bersama orang-orang yang seiman dengan dia. Namun yang jelas ia hidup di antara orang-orang fasik, yaitu mereka yang mengucapkan kata-kata nista terhadap Tuhan. Hal ini jelas merupakan suatu pergumulan hidup yang berat. Saya yakin Allah berkenan kepada Henokh karena imannya tidak hanya ditetapkan pada sesuatu yang ia rasakan di dalam hati, tetapi juga pada apa yang diekspresikan melalui bibir mulutnya serta diejawantahkan pula melalui kehidupan sehari-harinya. Dengan kata lain, iman Henokh adalah aktif dan dinamis, vokal dan tanpa gentar menunjukkan kefasikan orang serta berani mengumumkan penghukuman Allah yang akan segera menimpa mereka yang tidak mau bertobat.
— Khotbah Topikal —
Berjalan Bersama Allah
January 27, 2018