Khotbah Topikal

Berjalan Bersama Allah

Dari hidup Henokh, kita akan menguji diri apakah kita sudah berjalan dengan Allah dengan memenuhi syarat-syarat berikut:

A.  Adanya Rekonsiliasi

Hal pertama yang diterapkan dalam kehidupan Henokh dengan hidup bergaul dengan Allah ialah adanya rekonsiliasi. Nabi Amos pernah menegaskan melalui sebuah pertanyaan, “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” (Amos 3:3). Salah satu Alkitab versi terjemahan bahasa Inggris berbunyi, “Do two persons walk together if they do not agree to each other?” Atau, apakah dua orang dapat berjalan bersama bila mereka tidak saling sepakat? Saya lebih senang dengan Alkitab versi terjemahan bahasa Mandarin yang berbunyi, “Bagaimana mungkin dua orang berjalan bersama-sama bila mereka tidak sehati?” Jelaslah bagi kita bahwa dua orang tidak dapat sungguh-sungguh berjalan bersama dalam persekutuan yang manis, kecuali mereka saling akur. Prasyarat untuk berjalan bersama ialah adanya suatu harmoni. Jika Henokh berjalan dengan Allah, maka ia jelas sudah memiliki suatu kesehatian dengan Allah. Sebagai keturunan ke-7 dari Adam, leluhurnya yang memberontak kepada Allah, sesungguhnya Henokh tidak terlepas dari kecendrungan untuk memberontak kepada Allah. Efesus 2:3 mengatakan bahwa kita semua adalah anak-anak yang dimurkai. Namun, oleh imannya Henokh justru hidup bergaul dengan Allah, mendapat rekonsiliasi, diperdamaikan dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *