Dalam tulisan ini saya ingin mengajak pembaca merenungkan tema “Berjalan dengan Allah”, dengan menyimak tiga hal, antara lain: syarat berjalan dengan Allah, tindakan konkret berjalan dengan Allah, dan pengalaman manis berjalan dengan Allah.
1. Syarat Berjalan dengan Allah
Percaya bahwa Allah itu eksis merupakan langkah pertama menuju iman. Percaya bahwa Dia memberikan upah kepada mereka yang sungguh-sungguh mempercayakan diri kepada-Nya adalah langkah pertama iman. Mempercayakan diri atau trusting sepenuhnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah permulaan dari kehidupan iman kita kepada Allah. Bila ingin mencapai taraf menyenangkan Allah secara terus-menerus, maka kita harus bersekutu dengan Dia, terus-menerus hidup bergaul atau berjalan dengan Dia—tepat seperti yang telah dilakukan oleh Henokh. Di dalam Kejadian 5:21-24 yang melukiskan tentang Henokh, dua kali dikatakan “Henokh hidup bergaul dengan Allah”. Kata “hidup bergaul” dalam bahasa Ibrani memakai kata halak dalam bentuk hitpael Imperfect, makna harfiahnya adalah walk constantly with God. Menarik sekali bila kita membandingkan dengan versi Septuaginta, ungkapan ini diterjemahkan sebagai “pleased God” atau menyenangkan Allah/berkenan kepada Allah. Kata Yunani yang sama euaresteo yang artinya well-pleasing juga dipakai dalam Ibrani 11:5,6. Bergaul dengan Allah berarti berkenan kepada Allah.