Renungan

Give Until it Hurts

Give Until it Hurts

Oleh: Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya

Suatu malam pada tahun 2005 di posko TGKI (Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia, GKI Humanitarian) di Gunung Sitoli Nias, kami mengadakan refleksi bersama para relawan dan para dokter relawan. Kehadiran TGKI di sana adalah dalam rangka membantu masyarakat Nias pasca tsunami 2004, sebagaimana kami lakukan juga berbulan-bulan di Banda Aceh. Setiap malam sehabis bekerja keras, kami melakukan evaluasi dan perenungan reflektif.  Sementara saya memimpin refleksi tersebut, seorang relawan paruh baya mulai berlinang air dan menangis terisak. Dia bahkan tidak berusaha menutupi kesedihannya, entah dengan menghapus linangan air mata atau memalingkan muka atau menahan isaknya. Mestinya kesedihannya berkaitan dengan apa yang sedang kami renungkan.

Apa yang kami renungkan malam itu? Saya sedang membahas kearifan religius Mother Teresa sang pejuang kemanusiaan. Banyak ujarannya yang indah dan mendalam. Namun yang saya paling suka dan membahasnya malam itu adalah ungkapan “Give until it hurts.” (Berilah sampai terasa sakit).

Saya tidak mengidolakan siapapun, termasuk Mother Teresa dan tidak suka diidolakan siapapun. Secara religius “idol” adalah berhala, obyek atau subyek pemujaan. Jadi mengidolakan dan diidolakan bertentangan dengan spiritualitas religius. Proses tersebut mengalihkan orang percaya dari Tuhan Allah Sang Khalik, juga dari Kristus Sang Juruselamat Dunia. Namun sudah lama istilah dan ungkapan sejenis mengalami proses sekularisasi, artinya dilepaskan dari makna religiusnya, lalu menjadi sekadar ungkapan psikologis dan sosio-psikologis. Itu sebab pelbagai komunitas religius melupakan maknanya semula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *