Bukankah pengalaman itu berkebalikan dengan perkataan Amsal? “Hajarlah anakmu selama ada harapan.” Amsal memberikan peringatan ini dengan kalimat perintah, “Hajarlah!” yang berarti suatu tindakan yang harus dilakukan karena ada hal yang penting. Kalau tidak diajarkan, maka akan memberikan dampak yang tidak baik. Bagi Amsal, seorang ayah diberi otoritas oleh Allah untuk mendisiplin anak-anaknya. Disiplin yang dilakukan itu adalah untuk menegakkan kebenaran atau mengontrol kebenaran yang harus ditaati dan dilakukan dalam kehidupan bersama. Ketika kebenaran itu dilanggar atau diabaikan, maka ada peringatan. Peringatan itu dibutuhkan karena ada pelanggaran. Jika tidak ada peringatan, maka orang tidak akan dapat berjalan dalam kebenaran. Peringatan itu justru menuntun seseorang supaya tetap berada dalam kebenaran, kembali pada kebenaran. Peringatan itu mempunyai tingkatan yang bermacam-macam. Salah satu peringatan yang paling keras yaitu “hajarlah”, tindakan peringatan dengan melakukan kekerasan, supaya melalui kekerasan itu ada rasa jera, kapok, tetapi bukan kapok lombok, kata orang Jawa. Ternyata bentuk peringatan masih dibutuhkan ketika seseorang terus-menerus melanggar kebenaran. Ketika peringatan, mulai dari yang sederhana sampai yang agak keras, tetap diabaikan, maka dibutuhkan peringatan keras. Peringatan pasti diperlukan dalam pertumbuhan menuju kebenaran. Amin.
Hajarlah Anakmu!
November 9, 2018