Bekerja mirip dengan hubungan asmara sepasang sejoli. Ketika memulai suatu pekerjaan, kita masih meraba-raba apakah pekerjaan itu cocok atau tidak. Kita akan berjuang untuk bertahan dan berkembang. Setelah periode tertentu perlahan-lahan kita akan mulai bisa beradaptasi dan mulai berani mengerjakan hal yang lebih besar. Mungkin kita memulai dengan rasa takut atau bahkan rasa tidak senang. Namun, berkat ketekunan, kita bisa menyukai pekerjaan itu. Ada hasil dan kesuksesan yang dilakukannya. Setelah melewati tahap tersebut, maka pekerjaan sudah melekat dengan hidup kita dan tak terpisahkan ibarat suami istri. Pekerjaan itu sudah menjadi seperti pasangan kita, bahkan bisa lebih dari itu! Dari segi perhatian dan dedikasi, dari sudut pengorbanan, maka pekerjaan telah mengambil banyak tempat dalam hidup kita. Tak heran apabila Yesus mengingatkan kita agar tidak khawatir tentang “hidup” kita yang jelas jauh lebih berharga dari segala yang ada di dunia ini. Katanya, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Matius 6:25).
Kecanduan Bekerja Keras
June 19, 2018