Khotbah Perjanjian Baru

Keyakinan di dalam Kristus

Oleh: Pdt. Budianto Lim

1 Yohanes 3:19-24

Perenungan kita pagi ini sangat erat korelasinya dengan khotbah Pdt. Theo minggu lalu berdasarkan 1 Yohanes 2:28-3:10. Kita adalah anak-anak Allah ketika 2 kebenaran rohani ini hadir dalam hidup sehari-hari, yaitu: berada dan bertahan di dalam Kristus dan makin jauh dari dosa. Menghidupi 2 kebenaran tersebut tiap hari bukanlah hal yang gampang. Ketidaksempurnaan kita menjalani hidup sehari-hari terkadang bisa jadi instrumen si iblis untuk menjatuhkan kita, membuat kita ragu bahkan menyebabkan kita tidak yakin apakah kita benar anak-anak Allah atau bukan. Kalau gitu, apa bukti yang menjamin bahwa kita bisa bertahan untuk dapat hidup kekal yang Allah janjikan?  Mari kita membaca 1 Yohanes 3:19-24.

Ayat 19-20 kalau dibaca, dipikirin, diteliti – bisa jadi agak membingungkan. “Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran” – bisakah kalimat ini berdiri sendiri? Kalimat ini membuat kita tanya “bagaimana kita tahu kalau kita berasal dari kebenaran?” Versi Inggris, NIV menterjemahkan “by this we shall know that we are of the truth…” – “this” di kalimat ini menunjuk kemana?

Dalam bahasa asli, kalimat ini berbunyi demikian:

“Dengan demikian kita tahu bahwa kita berasal dari kebenaran dan kita boleh menenangkan hati kita dihadapan Allah kapanpun hati kita menuduh kita, karena Allah jauh lebih besar dari hati kita dan Allah mengetahui segala sesuatu”.

Kalimat ayat 19-20 ini terkait erat dengan ayat 16-18. Kita tahu kita berasal dari kebenaran jika kita mengasihi saudara-saudara seiman bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan dalam kebenaran. Mengasihi pun perlu terjadi di dalam kebenaran.

Dalam upaya kita membantu Sdr/i seiman sebagai bentuk kasih kristiani, kadang kita akan menghadapi tuduhan-tuduhan nurani. Tuduhan nurani bisa benar. Tapi tuduhan nurani juga ada yang  palsu karena iblis berperan menjatuhkan kita, untuk membuat kita ragu akan kasih Tuhan. Apalagi si iblis diberi julukan dalam Alkitab sebagai “the accuser/penuduh/pendakwa” (Wahyu 12:10). Istilah “menuduh” mengandung makna “menekan berulang kali supaya jatuh ke bawah” (kataginw¿skhØ). Jadi ada tuduhan hati nurani yang menganggu diri kita bahkan melemahkan keyakinan iman kita di dalam Kristus.

Kita harus mengerti dengan jelas disini. Tuduhan nurani untuk menjatuhkan kita bukan semata-mata salahnya iblis yang cari kesempatan dalam kesempitan. Kita gak bisa cari kambing hitam si iblis, sebab tuduhan nurani atau “the inner voice” dalam diri kita hadir karena diri sendiri – Ada standar moral dalam diri kita yang dilanggar. Karena kita dituding dan dituduh terus menerus oleh hati kita, maka bikin kita ada perasaan bersalah. Hati nurani seseorang yang berisi standar moral tertentu, menurut psikologi scr umum, dipengaruhi dan dibentuk oleh pendidikan keluarga, sekolah, lingkungan sosial, pendidikan agama dan seluruh pengalaman realita hidup. Tuduhan nurani muncul ketika menurut penilaian kita tindakan atau perkataan tidak cocok dengan nilai moral yang ada dalam diri kita. Hati kita terus menggedor sehingga kita tidak ada damai. Itu dari diri kita sendiri. Tidak bisa mengkambing-hitamkan si iblis. Yang sulit untuk dibedakan adalah batasan yang mana tuduhan nurani dari diri sendiri dan yang mana yang sudah dipakai sama iblis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *