Khotbah Perjanjian Baru

Bersaksi di Keluarga

Oleh: Pdt. Budianto Lim

Kisah Para Rasul 16:30-34

1 Korintus 10:24-33

Di halaman renungan gempita, halaman 2, Anda bisa membaca sebuah kesaksian anonim. Kesaksian sehari-hari mengenai seorang anak yang percaya Tuhan Yesus Kristus dan rindu agar keluarganya juga dimenangkan. Saya kira banyak dari jemaat yang memiliki pergumulan serupa. Silakan Anda baca kesaksian tersebut yang dipecah jadi 2 minggu. Saya sendiri sudah dengar langsung dari yang bersangkutan, tapi saya tidak akan beritahu ending-nya seperti apa. Yang pasti apa yang disaksikan disini mencerminkan seruan dari Kisah Rasul 16:31 yang kita imani tadi sebagai petunjuk hidup baru. Mari kita baca lebih lengkap bagian Kisah Rasul tersebut. Kita baca mulai ayat 25, Kisah Rasul 16, sampai ayat 34.

Saya akan ajak jemaat fokus hanya pada ayat 31. Sebab ayat ini sudah banyak menguatkan anak2 Tuhan yang berada dalam keluarga non-Kristen. Dan saya kira kita yang berada dalam keluarga Kristen, ayat ini perlu jadi peringatan. Sebab justru banyak dari yang keluarga Kristen tetapi belum tentu sungguh-sungguh kristiani. Bagi saya yang berasal bukan dari keluarga Kristen dan mama saya sampai hari ini juga belum mau percaya Kristus, ayat ini memberi satu pergumulan. Saya percaya pergumulan ini juga mungkin dialami oleh banyak Sdr/i. Begini pergumulan yang saya maksud.

Apakah ayat 31 adalah janji yang sifatnya normatif atau sifatnya kasuistik? Apakah kalimat “percaya Yesus, kamu selamat, kamu dan seisi rumahmu” adalah perkataan janji Allah yang sifatnya universal selama sejarah dunia ada atau hanya sebuah contoh representasi yang terjadi spesifik untuk rumah tangga kepala penjara saja di Filipi?

Jika perkataan ayat 31 adalah janji Allah – apakah janji itu berlaku hanya untuk keluarga inti atau keluarga besar?

Kita perlu memiliki kemantapan akan makna ayat 31, sebab implikasinya sangat krusial bagi kesaksian di keluarga. Jika ayat 31 bukan janji Allah, tetapi sebuah contoh representatif yang berlaku hanya di abad pertama masehi, yah kita tenang-tenang aja untuk bersaksi di tengah keluarga karena itu belum tentu kejadian.

Tetapi jika ayat 31 adalah janji Allah yang sifatnya universal disepanjang sejarah komunitas Kristen, maka Yesus yang kita saksikan secara verbal dan melalui perbuatan tidak akan pernah sia-sia. Jika ini janji Allah, Allah akan berperan di belakang layar menebus seluruh keluarga kita menjadi milikNya.

Bagaimana cara kita menyimpulkan mana ajaran yang tepat? Apa yang harus kita lakukan buat validasi apakah ayat 31 itu janji normatif berlaku universal di sepanjang sejarah atau peristiwa situasional di abad pertama saja? Tuhan maunya yang mana? Tuhan janji atau Tuhan sebatas tunjukin satu contoh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *